LANGIT7.ID-, Jakarta - - Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyelenggarakan acara "Sinergi Temu Komunitas Nasional untuk Penguatan Pendidikan Karakter" yang bertujuan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak.
Acara yang digelar di Jakarta ini dihadiri oleh 50 perwakilan organisasi dari lintas agama, profesi, dan komunitas.
Kepala Puspeka, Rusprita Putri Utami menyampaikan bahwa penguatan karakter merupakan cita-cita besar untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, cita-cita ini membutuhkan dukungan dari Catur Pusat Pendidikan, yaitu keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan media. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dan gotong royong dengan berbagai pihak untuk mengeskalasi inisiatif dan praktik baik yang telah dilakukan oleh komunitas.
Baca juga: Abdul Mu'ti Dilantik sebagai Pendekar Kehormatan Tapak Suci: Sinergi Pendidikan Karakter dan Bela DiriSenada dengan itu, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pembelajaran dan Sekolah Unggul, Arif Jamali, yang secara resmi membuka acara, menegaskan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah "perjuangan panjang dan jalan sunyi" yang tidak bisa dilakukan sendiri oleh kementerian.
"Menciptakan anak-anak yang berkarakter, diperlukan kolaborasi dan partisipasi aktif dari berbagai pihak," ujar Arif Jamali, dikutip Selasa (26/8/2025).
Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan yang kontekstual dan relevan dengan generasi saat ini. Contoh sederhana, seperti program
Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan makanan sehat, giat belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.
Baca juga: Mendikdasmen Abdul Mu'ti Resmikan Peluncuran Buku Panduan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat"Kebiasaan ini tidak akan berhasil tanpa peran orang tua dan organisasi masyarakat yang dapat memantau pelaksanaannya di luar lingkungan sekolah. Lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menggembirakan merupakan prasyarat penting agar program-program pendidikan dapat berjalan dengan baik," imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Arif menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan anak-anaknya yang merepresentasikan tantangan pendidikan karakter di era modern. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa pendidik dan orang tua harus memahami gap generasi dan mengadopsi cara-cara yang kekinian serta menyenangkan dalam mendidik karakter anak.
Puspeka turut meluncurkan beberapa program prioritas lainnya, seperti
Program Pagi Ceria, penguatan kegiatan ekstrakurikuler, penciptaan lingkungan belajar yang inklusif dan aman, serta penguatan kebinekaan.
Gigih Anggana Yuda, perwakilan Subbag Tata Usaha Puspeka, menambahkan bahwa melalui platform "Siap Bersama", Puspeka mendorong tata kelola kerja sama yang lebih tertib, transparan, dan adaptif. Ia berharap dengan adanya Temu Komunitas Nasional ini, semakin banyak pihak yang terlibat aktif dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkarakter, inklusif, dan berkelanjutan.
Sesi terakhir disampaikan oleh perwakilan Subbag Tata Usaha Puspeka, Gigih Anggana Yuda, yang menjelaskan pentingnya tata kelola kerja sama lintas lembaga melalui platform "Siap Bersama". Menurutnya, kolaborasi dalam penguatan karakter harus berlandaskan prinsip saling mendukung, berkesinambungan, dan menumbuhkan rasa kepemilikan (sense of ownership) dari setiap mitra.
Melalui Temu Komunitas Nasional ini, Kemendikdasmen berharap semakin banyak pihak yang terlibat aktif dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkarakter, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga cita-cita Indonesia Emas 2045 dapat terwujud.
(lsi)