Imam Shamsi Ali: Toleransi Mengakui Eksistensi Umat Lain, Bukan Membenarkan Agamanya
Muhajirin
Rabu, 22 Desember 2021 - 21:31 WIB
Imam Shamsi Ali aktif dalam kampanye kerukunan antar umat beragama di Amerika Serikat (foto: istimewa)
Imam Islamic Center of New York Shamsi Ali, menjelaskan, dalam Islam adalah toleransi bagian dari keyakinan. Toleransi bukan sekadar memberikan ruang kepada pemeluk agama lain untuk meyakini dan menjalankan keyakinan mereka, tapi menerima eksistensi mereka sebagai bagian dari sunnatullah.
Penerimaan itu termaktub dalam Surah An-Nahl ayat 93, Allah Ta’ala berfirman, “Dan sekiranya Allah menghendaki, maka Allah menjadikan kalian semuanya sebagai satu umat.”
Maka dari itu, menentang eksistensi agama lain atau keberadaan kelompok agama lain berarti penentangan kepada sunnatullah itu. Itu merupakan sikap tegas dalam mengafirmasi eksistensi ‘keragaman’ dalam ciptaan Allah.
Al-Qur’an juga mengafirmasi keberadaan agama lain dalam surah Al-Kafirun. “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.” Dengan demikian, bisa disimpulkan jika toleransi adalah menerima eksistensi keyakinan lain di sekitar kita.
Penerimaan itu berarti menerima ‘realitas eksistensi’ dan bukan menerima atau mengakui apalagi memeluk ‘kebenaran’ dari keyakinan orang lain.
Dalam perspektif religi, Shamsi Ali membagi dua kubu umat Islam yang bersikap ekstrem dalam menyikapi toleransi itu. Di antaranya:
1. Meyakini Semua Agama Sama
Penerimaan itu termaktub dalam Surah An-Nahl ayat 93, Allah Ta’ala berfirman, “Dan sekiranya Allah menghendaki, maka Allah menjadikan kalian semuanya sebagai satu umat.”
Maka dari itu, menentang eksistensi agama lain atau keberadaan kelompok agama lain berarti penentangan kepada sunnatullah itu. Itu merupakan sikap tegas dalam mengafirmasi eksistensi ‘keragaman’ dalam ciptaan Allah.
Al-Qur’an juga mengafirmasi keberadaan agama lain dalam surah Al-Kafirun. “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.” Dengan demikian, bisa disimpulkan jika toleransi adalah menerima eksistensi keyakinan lain di sekitar kita.
Penerimaan itu berarti menerima ‘realitas eksistensi’ dan bukan menerima atau mengakui apalagi memeluk ‘kebenaran’ dari keyakinan orang lain.
Dalam perspektif religi, Shamsi Ali membagi dua kubu umat Islam yang bersikap ekstrem dalam menyikapi toleransi itu. Di antaranya:
1. Meyakini Semua Agama Sama