LANGIT7.ID - Imam Islamic Center of New York Shamsi Ali, menjelaskan, dalam Islam adalah toleransi bagian dari keyakinan. Toleransi bukan sekadar memberikan ruang kepada pemeluk agama lain untuk meyakini dan menjalankan keyakinan mereka, tapi menerima eksistensi mereka sebagai bagian dari sunnatullah.
Penerimaan itu termaktub dalam Surah An-Nahl ayat 93, Allah Ta’ala berfirman, “Dan sekiranya Allah menghendaki, maka Allah menjadikan kalian semuanya sebagai satu umat.”
Maka dari itu, menentang eksistensi agama lain atau keberadaan kelompok agama lain berarti penentangan kepada sunnatullah itu. Itu merupakan sikap tegas dalam mengafirmasi eksistensi ‘keragaman’ dalam ciptaan Allah.
Al-Qur’an juga mengafirmasi keberadaan agama lain dalam surah Al-Kafirun. “Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.” Dengan demikian, bisa disimpulkan jika toleransi adalah menerima eksistensi keyakinan lain di sekitar kita.
Penerimaan itu berarti menerima ‘realitas eksistensi’ dan bukan menerima atau mengakui apalagi memeluk ‘kebenaran’ dari keyakinan orang lain.
Dalam perspektif religi, Shamsi Ali membagi dua kubu umat Islam yang bersikap ekstrem dalam menyikapi toleransi itu. Di antaranya:
1. Meyakini Semua Agama SamaDinamika di dalam tubuh umat Islam memang beragam. Terdapat kelompok yang cenderung melihat bahwa toleransi berarti harus
sharing keyakinan dengan orang lain. Tidak
sharing keyakinan dan praktik agama orang lain, maka dianggap tidak toleran.
“Maka timbul ide untuk menyamakan semua agama, bahwa semua agama itu sama. Ini pandangan yang sangat ekstrem. Dan terkadang dilakukan atas nama toleransi, seolah-olah kalau tidak ikut ibadah orang lain, kita dianggap tidak toleran, ini sangat berbahaya, karena sesungguhnya sudah sikap intoleran,” kata Shamsi Al melalui akun youtube-nya, dikutip Rabu (22/12/2021).
Orang Islam yang melakukan itu tanpa sadar sudah bersikap intoleran kepada agama orang lain. Ini karena orang lain juga tidak ingin disamakan dengan Islam. Tidak ada satupun non muslim yang ingin disama-samakan dengan ajaran Islam.
“Coba Tanya kepada pendeta Katolik, apakah mereka mau agamanya disamakan dengan Islam? Pasti mereka menolak, karena memang ga sama. Mereka yakin yesus reinkarnasi tuhan, kalau mereka menyamakan Katolik dengan islam, jadi seolah-olah yesus itu dimanusiakan, karena yesus dalam Islam adalah manusia biasa,” kata Shamsi Ali.
2. Meniadakan Eksistensi Agama-Agama LainKerap ada umat Islam salah mengartikan surah Ali-Imran ayah 19. Dalam surah itu, Allah berfirman, “Seungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
“Kubu kedua, ekstrem yang menihilkan, meniadakan adanya eksistensi agama-agama lain. Nah, ini harus dipahami secara benar. Meyakini adanya agama lain bukan berarti membenarkan. Jadi, harus dibedakan meyakini adanya dan membenarkan,” ucapnya.
Namun, dia menekankan, meyakini keberadaan eksistensi agama lain bukan berarti membenarkan keyakinan mereka. Ini harus dipahami agar tidak salah kaprah dan justru menjadi kubu ekstrem pertama, menyamakan semua agama.
“Jadi, Islam itu adalah agama yang berada di tengah. Di satu sisi kita meyakini adanya eksistensi agama lain, tapi pada saat yang saat sama bukan berarti meyakini kebenaran agama lain. Kenapa? Karena itu bertentangan dengan keyakinan kita,” ucap Shamsi Ali.
(jqf)