Risiko Rawat Inap Dampak Omicron Lebih Rendah Dibanding Delta
Garry Talentedo Kesawa
Kamis, 23 Desember 2021 - 09:05 WIB
Ilustrasi omicron. (Foto: Langit7.ID/iStock)
Covid-19 varian Omicron telah menyebar ke banyak negara di dunia. Varian baru tersebut memiliki beberapa mutasi dan dapat membawa resiko infeksi ulang kepada para penyintas Covid-19.
Meski begitu, sebuah penelitian di Afrika Selatan menunjukkan risiko rawat inap dari Omicron masih lebih rendah jika dibandingkan dengan varian Delta. Bahkan, sampai penyakit paling parah pada orang yang terinfeksi Omicron.
Baca juga:Pemerintah Siapkan Skenario Hadapi Kemungkinan Peningkatan Kasus Omicron
Dalam studi tersebut, menemukan bahwa orang yang didiagnosis mengidap Omicron di Afrika Selatan antara 1 Oktober dan 30 November memiliki kemungkinan 80 persen lebih kecil untuk dirawat di rumah sakit dibandingkan mereka yang didiagnosis dengan varian lain pada periode yang sama. Namun, para penulis penelitian itu mengatakan salah satu kemungkinan rendahnya risiko itu karena kekebalan populasi yang tinggi.
Di antara pasien yang dirawat pada periode itu, mereka yang mengidap Omicron memiliki peluang yang sama untuk menjadi sakit parah seperti mereka yang mengidap varian lain. Penelitian tersebut menemukan bahwa orang yang dirawat di rumah sakit dengan Omicron pada Oktober-November 70 persen lebih kecil kemungkinannya untuk menjadi sakit parah dibandingkan mereka yang dirawat dengan Delta antara April dan November.
"Yang menarik, data kami benar-benar menunjukkan cerita positif tentang penurunan keparahan Omicron dibandingkan dengan varian lain," kata Profesor Cheryl Cohen, salah satu penulis studi tersebut, dari Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD), seperti dikutip Kamis (23/12).
Cohen mengatakan temuannya diperkuat oleh data pengamatan yang menunjukkan rawat inap dan kematian jauh lebih rendah dari gelombang infeksi yang digerakkan oleh Omicron di Afrika Selatan, meskipun jumlah kasus jauh lebih tinggi. Menurutnya, temuan penelitian tersebut kemungkinan dapat digeneralisasikan ke negara-negara lain di Afrika sub-Sahara yang juga memiliki tingkat infeksi sebelumnya yang sangat tinggi.
Meski begitu, sebuah penelitian di Afrika Selatan menunjukkan risiko rawat inap dari Omicron masih lebih rendah jika dibandingkan dengan varian Delta. Bahkan, sampai penyakit paling parah pada orang yang terinfeksi Omicron.
Baca juga:Pemerintah Siapkan Skenario Hadapi Kemungkinan Peningkatan Kasus Omicron
Dalam studi tersebut, menemukan bahwa orang yang didiagnosis mengidap Omicron di Afrika Selatan antara 1 Oktober dan 30 November memiliki kemungkinan 80 persen lebih kecil untuk dirawat di rumah sakit dibandingkan mereka yang didiagnosis dengan varian lain pada periode yang sama. Namun, para penulis penelitian itu mengatakan salah satu kemungkinan rendahnya risiko itu karena kekebalan populasi yang tinggi.
Di antara pasien yang dirawat pada periode itu, mereka yang mengidap Omicron memiliki peluang yang sama untuk menjadi sakit parah seperti mereka yang mengidap varian lain. Penelitian tersebut menemukan bahwa orang yang dirawat di rumah sakit dengan Omicron pada Oktober-November 70 persen lebih kecil kemungkinannya untuk menjadi sakit parah dibandingkan mereka yang dirawat dengan Delta antara April dan November.
"Yang menarik, data kami benar-benar menunjukkan cerita positif tentang penurunan keparahan Omicron dibandingkan dengan varian lain," kata Profesor Cheryl Cohen, salah satu penulis studi tersebut, dari Institut Nasional untuk Penyakit Menular (NICD), seperti dikutip Kamis (23/12).
Cohen mengatakan temuannya diperkuat oleh data pengamatan yang menunjukkan rawat inap dan kematian jauh lebih rendah dari gelombang infeksi yang digerakkan oleh Omicron di Afrika Selatan, meskipun jumlah kasus jauh lebih tinggi. Menurutnya, temuan penelitian tersebut kemungkinan dapat digeneralisasikan ke negara-negara lain di Afrika sub-Sahara yang juga memiliki tingkat infeksi sebelumnya yang sangat tinggi.