Pesantren ini Kelola Kurban Bebas Kerumunan dan Ramah Lingkungan
Muhajirin
Rabu, 21 Juli 2021 - 08:06 WIB
Pengemasan daging kurban di Pondok Buntet Pesantren bebas plastik menggunakan besek dari bambu (foto: NU Online)
Lembaga Amil Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (Laziswa) Buntet Pesantren sukses menggelar pemotongan hewan kurban pada Idul Adha 1442 H. Pondok Pesantren yang terletak Cirebon, Jawa Barat itu memiliki beberapa cara dalam proses pemotongan hewan hingga pembagian daging kurban agar tidak menciptakan kerumunan sekaligus ramah lingkungan.
Pertama, pemilihan tempat yang tepat. Laziswa Buntet Pesantren melakukan pemotongan hewan kurban di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren. Lokasi itu dipilih untuk menghindari kerumunan masyarakat karena jauh dari pemukiman.
Kedua, menerapkan protokol kesehatan. Dalam proses penyembelihan, para panitia kurban tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Ketua Laziswa Buntet Pesantren, Ustaz Muhammad Hamdi, para pengurus Laziswa dan penyembelih juga mengenakan masker saat proses penyembelihan berlangsung.
Ketiga, membagikan kupon. Laziswa telah menyediakan kupon untuk masyarakat yang tinggal di sekitar pondok pesantren. Laziswa Buntet Pesantren membagikan lebih dari 300 kupon untuk masyarakat sekitar. Nantinya, panitia telah menyediakan tempat, mekanisme, hingga waktu pengambilan daging agar tidak terjadi kerumunan.
“Sebelumnya penerima daging kurban mendapatkan kupon untuk pengambilan. Lalu mereka mendatangi tempat pembagian,” kata Ustadz Hamdi, dikutip dari NU Online, Rabu (21/7/2021)
Keempat, wadah daging tidak menggunakan plastik. Panitia kurban tidak menggunakan plastik untuk membungkus daging hewan kurban, namun menggunakan besek yang terbuat dari anyaman bambu.
Pilihan bungkus demikian atas permintaan dari lembaga penyalur, yakni Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), guna menjaga lingkungan agar tetap lestari.
Pertama, pemilihan tempat yang tepat. Laziswa Buntet Pesantren melakukan pemotongan hewan kurban di Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Putra Buntet Pesantren. Lokasi itu dipilih untuk menghindari kerumunan masyarakat karena jauh dari pemukiman.
Kedua, menerapkan protokol kesehatan. Dalam proses penyembelihan, para panitia kurban tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Ketua Laziswa Buntet Pesantren, Ustaz Muhammad Hamdi, para pengurus Laziswa dan penyembelih juga mengenakan masker saat proses penyembelihan berlangsung.
Ketiga, membagikan kupon. Laziswa telah menyediakan kupon untuk masyarakat yang tinggal di sekitar pondok pesantren. Laziswa Buntet Pesantren membagikan lebih dari 300 kupon untuk masyarakat sekitar. Nantinya, panitia telah menyediakan tempat, mekanisme, hingga waktu pengambilan daging agar tidak terjadi kerumunan.
“Sebelumnya penerima daging kurban mendapatkan kupon untuk pengambilan. Lalu mereka mendatangi tempat pembagian,” kata Ustadz Hamdi, dikutip dari NU Online, Rabu (21/7/2021)
Keempat, wadah daging tidak menggunakan plastik. Panitia kurban tidak menggunakan plastik untuk membungkus daging hewan kurban, namun menggunakan besek yang terbuat dari anyaman bambu.
Pilihan bungkus demikian atas permintaan dari lembaga penyalur, yakni Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), guna menjaga lingkungan agar tetap lestari.