Mengenal Ibnu Khaldun, Bapak Sejarah dan Sosiolog Modern
Fajar adhitya
Rabu, 12 Januari 2022 - 17:39 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7/iStock.
Ibnu Khaldun adalah Bapak Sosiologi Modern Islam, jauh sebelum Auguste Comte menelurkan teori Hukum Tiga Tahap pada lima abad kemudian. Ibnu Khaldun menganggap sejarah sebagai ilmu yang penting dipelajari, bukan hanya ceria-cerita yang dicatat.
Pengamatannya terhadap kehidupan dan kebudayaan Arab-Islam pada Abad 14 penuh akan penjelasan dan penalaran baru serta refleksi-refleksi yang mendorong pembentukan ilmu filsafat sosial. Berangkat dari pengalaman dan pengamatannya yang tajam, Ibnu Khaldun merajut pikiran-pikiran kritisnya.
Ia banyak menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan sistem kemasyarakatan dan kenegaraan berikut kritik-kritik inovatif terhadap cakupan sejarah sebagaimana tertuang dalam magnum opusnya, Muqaddimah. Dalam pengantarnya, Ibnu Khaldun menuliskan:
Ilmu sejarah merupakan ilmu yang mulia madzhabnya, besar manfaatnya, dan bertujuan agung. Ilmu sejarah menyebabkan kita dapat mengetahui perilaku dan akhlak umat-umat terdahulu, jejak-jejak para Nabi, para raja dengan kerajaan dan politik mereka sehingga dapat dijadikan pelajaran oleh orang-orang yang mengambil pelajaran, baik dalam urusan dunia maupun urusan agama.
Baca Juga:Habiburrahman El Shirazy: Waktu Merupakan Nikmat Terbesar dari Allah
Ibnu Khaldun dilahirkan di Tunis, Tunisia pada 1 Ramadhan 732 Hijriah yang bertepatan dengan 27 Mei 1332 Masehi. Leluhurnya merupakan transmigran Andalusia (Spanyol Muslim) yang kelak menetap ke Tunis pada pertengahan abad ke-7 Hijriah.
Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Khaldun Al Hadrami. Al Hadrami menandakan asal usul Ibnu Khaldun yang berasal dari Hadramaut, Yaman.
Pengamatannya terhadap kehidupan dan kebudayaan Arab-Islam pada Abad 14 penuh akan penjelasan dan penalaran baru serta refleksi-refleksi yang mendorong pembentukan ilmu filsafat sosial. Berangkat dari pengalaman dan pengamatannya yang tajam, Ibnu Khaldun merajut pikiran-pikiran kritisnya.
Ia banyak menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan sistem kemasyarakatan dan kenegaraan berikut kritik-kritik inovatif terhadap cakupan sejarah sebagaimana tertuang dalam magnum opusnya, Muqaddimah. Dalam pengantarnya, Ibnu Khaldun menuliskan:
Ilmu sejarah merupakan ilmu yang mulia madzhabnya, besar manfaatnya, dan bertujuan agung. Ilmu sejarah menyebabkan kita dapat mengetahui perilaku dan akhlak umat-umat terdahulu, jejak-jejak para Nabi, para raja dengan kerajaan dan politik mereka sehingga dapat dijadikan pelajaran oleh orang-orang yang mengambil pelajaran, baik dalam urusan dunia maupun urusan agama.
Baca Juga:Habiburrahman El Shirazy: Waktu Merupakan Nikmat Terbesar dari Allah
Ibnu Khaldun dilahirkan di Tunis, Tunisia pada 1 Ramadhan 732 Hijriah yang bertepatan dengan 27 Mei 1332 Masehi. Leluhurnya merupakan transmigran Andalusia (Spanyol Muslim) yang kelak menetap ke Tunis pada pertengahan abad ke-7 Hijriah.
Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Khaldun Al Hadrami. Al Hadrami menandakan asal usul Ibnu Khaldun yang berasal dari Hadramaut, Yaman.