LANGT7.ID- Lebih dari delapan abad lalu, Syekh Syahabuddin Suhrawardi menggagas filsafat yang berporos pada cahaya. Bagi sebagian orang, filsafat filsuf Persia yang meninggal muda di Aleppo tahun 1191 ini dianggap sekadar elaborasi metafisik. Namun dalam perspektif yang lebih luas, pemikirannya merepresentasikan pergulatan panjang dunia Islam dalam menyatukan akal, intuisi, dan pengalaman spiritual. Pertanyaan besarnya: mengapa pemikiran seorang intelektual abad pertengahan ini masih penting bagi dunia sekarang?
Dalam
Ḥikmat al-Ishrâq (Filsafat Pencerahan), Suhrawardi memaknai realitas sebagai hierarki cahaya. Konsep ini bukan hanya metafor religius, tetapi juga kritik terhadap pendekatan rasionalistik murni ala Avicenna. Pengetahuan tertinggi, menurutnya, tidak dicapai dengan silogisme semata, melainkan melalui “pengetahuan hadir”. Pengalaman langsung terhadap realitas.
Interpretasinya ini membuka perdebatan besar: Apakah akal cukup untuk memahami kebenaran, ataukah manusia butuh pengalaman batin? Dalam masyarakat modern yang dikuasai data, algoritma, dan kecerdasan buatan, pertanyaan ini kembali terasa relevan.
Baca juga: Jejak Tarekat Suhrawardi: Dari Keheningan Sufi ke Tren Meditasi Korporasi Jejak kontroversi, gema hingga kiniSuhrawardi mendapat julukan al-Maqtūl (“yang dibunuh”), diduga karena gagasan-gagasannya dipandang mengancam ortodoksi agama dan politik pada masanya. Namun ironisnya, justru dari kematiannya lahir pengaruh intelektual yang panjang: dari Mulla Ṣadra di era Safawi hingga diskusi filsafat modern tentang epistemologi intuitif.
Kontroversi itu menegaskan bahwa setiap gagasan baru seringkali menghadapi resistensi. Dalam konteks kontemporer, Suhrawardi dapat dipandang sebagai simbol bagaimana pemikiran alternatif — meskipun dibungkam secara politik — tetap menemukan ruang hidup dalam diskursus intelektual.
Bagi akademisi seperti Mehdi Amin Razavi dan Hossein Ziai, karya-karya Suhrawardi tidak sekadar peninggalan sejarah, tetapi tawaran filosofis untuk menyeimbangkan sains dan spiritualitas. Jika Barat modern cenderung menekankan empirisme, maka Suhrawardi mengingatkan: pengalaman batin juga valid sebagai sumber pengetahuan.
Di era ketika manusia mencari makna di balik kemajuan teknologi, filsafat cahaya bisa dibaca sebagai seruan agar manusia tidak terjebak dalam “kegelapan rasionalitas kering” — sebuah kritik yang terasa segar di abad ke-21.
Baca juga: Kisah Sufi Suhrawardi: Burung dan Telur Menghidupkan kembali “pencerahan Timur”Interpretasi ulang Suhrawardi bukan sekadar nostalgia intelektual. Di tengah diskusi tentang Islam Nusantara, pluralisme, dan integrasi sains dengan spiritualitas, hikmah ishrâqiyyah dapat menjadi sumber inspirasi. Cahaya dalam pemikirannya bisa dimaknai ulang sebagai simbol inklusivitas, keterbukaan, dan pencarian makna lintas tradisi.
Dengan demikian, Suhrawardi tidak hanya berbicara kepada para filsuf atau sejarawan Islam, tetapi juga kepada siapa pun yang tengah mencari keseimbangan antara logika, etika, dan spiritualitas.
(mif)