LANGIT7.ID-Ketika purnama menggantung di langit
Madinah, sekelompok lelaki kurus berjanggut duduk bersandar di pilar-pilar Masjid Nabawi. Mereka bukan pengemis, meski tak punya apa-apa. Mereka adalah
Ahl al-Suffah yakni
orang-orang suci yang meninggalkan dunia demi hidup bersama Rasulullah. Mereka inilah, menurut sebagian sejarawan Islam, cikal bakal kaum sufi.
Tapi jalan panjang menuju apa yang hari ini kita kenal sebagai tasawuf tidak berhenti di pelana batu atau dzikir sunyi. Ia berkembang menjadi disiplin keilmuan yang rumit, menyeberang dari ibadah sunyi ke struktur filsafat, bahkan hingga ke medan kontestasi kekuasaan dan paham keagamaan.
Di Indonesia, kata “sufi” kadang diidentikkan dengan kebersahajaan tokoh seperti
Syekh Abdul Qadir al-Jailani, atau Dzun Nun al-Mishri yang dikenal menciptakan istilah ma’rifat. Namun di ruang-ruang akademik, tasawuf tak hanya dipahami sebagai sikap hidup asketik. Ia adalah sistem moral, laku spiritual, dan—tak jarang—perdebatan teologis dan metafisik.
Prof. Harun Nasution, dalam
Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah, menyebut lima akar kata yang mungkin melahirkan istilah "sufi", mulai dari safa (suci), suf (wol), hingga
sophos (hikmah). Dari pemaknaan itu saja, tampak bahwa tasawuf berada di antara tiga dunia: pembersihan jiwa, keprihatinan sosial, dan pemikiran mendalam.
Baca juga: 3 Tahapan Penyucian Jiwa dalam Tasawuf: Ta’alluq, takhalluq, dan tahaqquq “Tasawuf adalah mistisisme dalam Islam,” ujar Dr. Rivay Siregar dalam
Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme. Di Barat, ia disebut Sufisme dan dipelajari sebagai cabang spiritual Islam yang mengutamakan pengalaman langsung kehadiran Ilahi.
Dalam pemetaan para akademisi, setidaknya ada tiga cabang besar dalam tasawuf: tasawuf akhlaki, tasawuf falsafi, dan tasawuf amali. Tasawuf akhlaki adalah disiplin yang mengutamakan pembersihan jiwa dan penyucian akhlak melalui tiga tahap:
takhalli (pengosongan sifat buruk),
tahalli (penghiasan diri dengan sifat baik), dan
tajalli (penyingkapan nur Ilahi).
Berbeda dengan itu, tasawuf falsafi lebih rumit. Ia menyeberang ke ranah filsafat metafisika. Tokoh-tokohnya seperti Ibnu Arabi dan al-Hallaj kerap menuai kontroversi karena menyuarakan paham *wahdatul wujud* (kesatuan eksistensi) yang dituduh dekat dengan panteisme. Sementara tasawuf amali—yang hari ini hidup dalam bentuk tarekat—adalah bentuk paling populer dan praksis: zikir berjamaah, puasa, khalwat, dan wirid menjadi bagian dari ritualnya.
Relevansi di Tengah Dunia yang BisingDi tengah dunia yang semakin bising dan berisik—dengan gegap gempita kapitalisme dan politik identitas—tasawuf hadir sebagai jalan sunyi. Ia menjadi anti tesis terhadap kekerasan simbolik agama yang kerap mengeksploitasi syariat tanpa ruh.
Baca juga: Tasawuf: 5 Makna Asal Kata Sufi, Salah Satunya Suf atau Kain Wol “Orang-orang beragama bisa sangat keras,” tulis Eep Sopawana Nurdin dalam
Pengantar Ilmu Tasawuf, “namun para sufi cenderung lembut, karena mereka mendekati Tuhan dengan cinta, bukan ancaman.”
Karena itu pula, tasawuf punya tempat istimewa dalam etika keislaman. Bagi ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Ibn Qayyim al-Jauziyah yang dikenal tajam dalam kritik terhadap bid’ah, tasawuf akhlaki tetap diakui. Sebab, ia tak lebih dari etika Islam yang diajarkan Nabi: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
Tasawuf bukan sekadar pelarian dari dunia, tapi bentuk revolusi mental. Salah satu prinsip penting dalam ajaran tasawuf adalah
shumt (diam), ju’i (lapar), dan khalwat (menyendiri). Prinsip-prinsip ini—jika dipahami secara aktual—merupakan metode pemurnian niat dan fokus pada esensi hidup.
Tak heran, kata Abdul Rahman dalam Hakikat Ilmu Tasawuf, banyak pendekatan dalam tasawuf yang kini masuk dalam wilayah psikoterapi modern. Zikir dan meditasi fikr, misalnya, terbukti memiliki efek menenangkan dan menyembuhkan, dalam bahasa barat:
mindfulness.
Warisan yang Perlu Diselami KembaliKini, ilmu tasawuf diajarkan di banyak universitas di Indonesia. Bahkan memiliki jurusan sendiri di UIN dan IAIN, lengkap dengan pendekatan akademik, psikologis, hingga sosiologis. Tapi dalam arus ekstremisme yang naik-turun dan debat ideologi yang tak pernah surut, tasawuf seakan tenggelam dalam sunyi yang justru menjadi ciri khasnya.
Baca juga: Pengajian Bersama Syaikh Fadhil Al Jailani, Khofifah: Sebarkan Tasawuf Penuh Kesejukan Bukan hanya sebagai ilmu, tasawuf perlu dihidupkan sebagai laku. Ia mengajarkan bahwa kehadiran Ilahi bukan hanya ditemukan dalam ritual formal, tapi dalam sunyi batin yang bersih dari dengki, riya, dan keserakahan.
Jika umat Islam bisa menyelami kedalaman ajaran ini, barangkali konflik yang selama ini digerakkan oleh nafsu atas nama agama, bisa digantikan dengan cinta.
(mif)