Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home masjid detail berita

3 Tahapan Penyucian Jiwa dalam Tasawuf: Taalluq, takhalluq, dan tahaqquq

miftah yusufpati Kamis, 22 Mei 2025 - 04:30 WIB
3 Tahapan Penyucian Jiwa dalam Tasawuf: Taalluq, takhalluq, dan tahaqquq
Allah memiliki rencana besar untuk memakmurkan bumi, dan para hamba-Nya yang saleh adalah pelaksana dari proyek ilahi tersebut. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Prof Dr Komaruddin Hidayat dalam buku "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" bab "Manusia dan Proses Penyempurnaan Diri" mengatakan secara garis besar, tahapan seorang mukmin dalam meningkatkan kualitas jiwanya terdiri atas tiga maqam atau jenjang spiritual.

Pertama, ta’alluq atau dzikir kepada Tuhan. Ini berarti berusaha senantiasa mengingat dan mengikatkan kesadaran hati serta pikiran kepada Allah. Di mana pun seorang mukmin berada, ia tidak boleh lepas dari aktivitas berpikir dan berdzikir kepada Tuhannya, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ali Imran: 191.

Kedua, takhalluq. Pada tahap ini, seorang mukmin secara sadar meneladani sifat-sifat Allah, sehingga dalam dirinya tumbuh sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya. Ini adalah proses internalisasi sifat-sifat Tuhan ke dalam diri manusia. Dalam konteks ini, para sufi merujuk pada sabda Nabi: Takhallaqu bi akhlaqillah” — “Berakhlaklah dengan akhlak Allah.”

Ketiga, tahaqquq. Ini merupakan puncak realisasi spiritual, yaitu kemampuan untuk mengaktualisasikan kesadaran ilahiah dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini, seorang mukmin telah “didominasi” oleh sifat-sifat Tuhan, sehingga perilakunya mencerminkan kesucian dan kemuliaan. Maqam ini sejalan dengan Hadis Qudsi yang menyatakan bahwa bagi hamba yang telah dekat dan intim dengan Tuhannya, maka Tuhan akan hadir dalam seluruh aktivitasnya.

Baca juga: Makna Kimia Kebahagiaan dalam Islam, dari Mengenal Diri hingga Akhirat

Hati sebagai Pusat Spiritualitas

Dalam tradisi tasawuf, fokus kajiannya adalah aspek *gaib* atau hati dalam pengertian metafisis. Al-Qur'an dan Hadis menegaskan bahwa hati bagaikan raja, sementara tubuh dan anggota badan adalah istana serta para abdinya. Baik buruknya kehidupan seseorang sangat tergantung pada kondisi hatinya.

Sebuah Hadis Qudsi menyebutkan bahwa meskipun hati secara fisik kecil dan berada dalam jasad, hati seorang *Insan Kamil* (qalb al-‘arif) lebih luas dari langit dan bumi, karena ia mampu menjadi tempat tajalli (penampakan metafisik) Allah. Langit dan bumi tidak mampu memuat-Nya, tetapi hati seorang sufi mampu menampung 'arsy-Nya.

Menurut Ibn 'Arabi, istilah qalb (hati) berkaitan erat dengan taqallub, yakni perubahan yang terus-menerus. Taqallub hati seorang sufi mengikuti tajalli Tuhan. Dan dari seluruh makhluk-Nya, hanya hati seorang *Insan Kamil* yang mampu menangkap dan memantulkan tajalli Tuhan dalam perilaku kemanusiaan.

Dalam konteks inilah Ibn 'Arabi menyatakan bahwa “barang siapa mengenal jiwanya, ia akan mengenal Tuhannya.” Sebab manusia adalah *mikrokosmos*—jagad kecil—yang di dalamnya terdapat ‘arsy Tuhan, meski bukan dalam pengertian huwiyah-Nya yang Maha Mutlak, melainkan dalam sifat-Nya yang dzahir.

Baca juga: Pengenalan Diri, Tangga untuk Mendaki Jenjang yang Lebih Tinggi untuk Mengenal Tuhan

Khalifah Allah: Manusia Suci Nan Perkasa

Jika penyucian jiwa adalah inti dari tasawuf dan merupakan jalan untuk mendekat kepada kasih Tuhan, maka tasawuf bisa dianggap sebagai inti dari keberagamaan itu sendiri. Oleh karena itu, setiap Muslim seharusnya berusaha menjadi seorang sufi.

Pandangan ini mungkin dianggap kurang populer, bahkan sulit diterima sebagian kalangan. Namun, bukankah Al-Qur'an dan Hadis telah menegaskan bahwa setiap Muslim berkewajiban menyucikan jiwanya, hingga kesucian itu termanifestasi dalam perilaku insaniyah?

Melalui tahapan ta’alluq, takhalluq, dan tahaqquq, seorang mukmin akan mencapai derajat sebagai khalifah Allah—makhluk yang mulia, kuat, penuh kasih, dan membawa kedamaian. Seorang ‘abdullah (hamba Allah) yang saleh sekaligus adalah wakil Tuhan di bumi, membangun bayang-bayang surga dalam kehidupan duniawi. Allah memiliki rencana besar untuk memakmurkan bumi, dan para hamba-Nya yang saleh adalah pelaksana dari proyek ilahi tersebut.

Dengan demikian, seorang sufi kontemporer tidak asing dengan aktivitas dzikir dan tafakur tentang Tuhan, meski dilakukan di hotel mewah dan dengan kendaraan yang megah.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)