LANGIT7.ID-, Jakarta- - Peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (Insists), Henri Shalahuddin, menjelaskan, Islam memiliki konsep kebahagiaan yang kompleks. Hal ini sudah dijelaskan Imam Al-Ghazali dalam Kitab Kimiya’ al-Sa’adah (kimia kebahagiaan).
Kimiya’ al-Sa’adah berarti partikel-partikel dalam diri manusia yg di-manage utuk mencapai kebahagian atau transmutes base metals into gold. Ada beberapa aspek kebahagiaan dicapai dengan empat cara yakni mengenal diri, mengenal Allah, mengenal hakikat dunia, dan mengenal hakikat akhirat.
“Kimia Kebahagiaan tercapai melalui proses takhalli (mengosongkan) dan tahalli (menghiasi), yaitu mendidik jiwa dengan cara menjauhi keburukan dan mensucikannya darinya (mengosongkan diri dari keburukan), menggapai keutamaan dan menghiasi jiwa dengannya (amal kebajikan),” kata Henri dalam kajian Insists, dikutip Kamis (21/12/2023).
Untuk mengenali diri, Henri memberikan monolog. Di antaranya, Anda itu sejenis apa? Anda ke tempat ini dari mana? untuk apa Anda dicipta? dengan apa Anda bahagia? dan karena apa Anda sengsara?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa membantu manusia untuk mengenal diri sendiri.
Selain itu, dalam diri manusia ada empat partikel dan memiliki corak kebahagiaan. Pertama, sifat kebinatangan artinya berbahagia dengan terpenuhinya kebutuhan makan, minum, tidur dan seks.
Kedua, sifat binatang buas, yakni berbahagia karena bisa memukul dan membunuh. Ketiga, sifat iblis, yakni berbahagia dengan cara melakukan makar, kriminal dan tipu muslihat.
“Keempat, sifat malaikat, berbahagia karena merasakan indahnya kehadiran Allah dalam hidupnya. Hal ini dicapai dengan mengenali asal usul dan hakekat diri,” kata Henri.
Seseorang harus mengenali Substansi diri dengan Ilmu. Kalbu sanubari itu adalah kunci untuk mengenali Allah. Menurut Henri, siapa saja yang sudah hilang kemauan untuk mencapai Ilmu, maka dia ibarat orang yang habis selera untuk memakan makanan yg baik; atau seperti orang yg lebih suka makan tanah daripada makan roti.
“Maka inti kebahagiaan hakiki adalah hakekat spiritual yang kekal, keyakinan pada hal-hal mutlak tentang hakikat alam, identitas diri dan tujuan hidup. Kesemuanya itu berawal dari ilmu dan bermuara pd mahabbatullah,” ujar Henri.
(ori)