LANGIT7.ID-Ketika lonceng-lonceng gereja berdentang di abad pertengahan, Eropa diselimuti rasa takut. Para ilmuwan diburu, buku-buku mereka dibakar, dan pengadilan inkuisisi menuduh mereka sesat. Galileo Galilei harus bertekuk lutut, bukan karena kebenaran sainsnya runtuh, tapi karena kuasa agama—atau setidaknya tafsir tunggal gereja—menggilasnya.
“Sejak itu,” tulis Dr. M. Quraish Shihab dalam
Wawasan Al-Qur'an (Mizan), “ilmuwan menjauh bahkan meninggalkan agama.” Mereka beralih pada hati nurani sebagai pengganti dogma. Namun, alternatif itu rapuh. Nurani manusia, kata Shihab, “terbentuk oleh lingkungan dan pendidikan,” sehingga tidak seragam dan tidak memberi tolok ukur pasti.
Lalu filsafat eksistensialisme lahir. Ia menawari manusia kebebasan mutlak: lakukan apa yang menyenangkan tanpa peduli nilai. Tetapi, itu pun gagal menyingkirkan agama. Mengapa? Karena, seperti ditegaskan Quraish Shihab, keberagamaan adalah fitrah, sifat dasar yang tak bisa dihapus. “
Fitrah Allah yang menciptakan manusia atas fitrah itu.” (QS Ar-Rum [30]: 30)
Baca juga: Ketika Cendekiawan Muslim Mulai Mempelajari Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Yunani Artinya, agama bukan sekadar pilihan. Ia kebutuhan, meski sering ditunda. “Seperti kebutuhan akan udara,” tulis Quraish Shihab. Bisa ditahan sesaat, tapi tak mungkin selamanya. William James, filsuf Amerika, bahkan lebih puitis: “Selama manusia masih punya rasa cemas dan harap, selama itu pula ia beragama.”
Ilmu Menjawab ‘Bagaimana’, Agama Menjawab ‘Mengapa’
Murtadha Muthahhari, pemikir Iran, menegaskan fungsi agama yang tak mampu diambil alih oleh ilmu:
- Ilmu mempercepat sampai ke tujuan, agama menentukan arah.
- Ilmu menjawab “bagaimana”, agama menjawab “mengapa.”
- Ilmu memberi kekuatan, agama memberi ketenangan.
“Ilmu bisa mengeruhkan pikiran pemiliknya,” tulis Muthahhari, “sedang agama selalu menenangkan jiwa pemeluknya.”
Dalam dunia modern, bukti itu nyata. Teknologi menciptakan senjata pemusnah massal dan rekayasa genetika. Tetapi siapa yang menentukan: apakah kloning manusia itu baik atau buruk? “Hanya nilai-nilai agama,” tulis Quraish Shihab, “bukan filsafat, bukan pula seni.”
Baca juga: 750 Ayat Kauniyah: Al-Quran Tidak Sama dengan Kitab Ilmu Pengetahuan Krisis Spiritual di Era AIKini, kita berada di ambang revolusi kecerdasan buatan (AI). Chatbot seperti ChatGPT menjawab semua pertanyaan dalam hitungan detik. Algoritma mengatur selera, bahkan memberi nasihat hidup. Tapi di balik layar yang terang, ada ruang-ruang gelap: kesepian, kehilangan makna, dan krisis identitas.
Survei Pew Research 2023 mencatat, 73 persen Gen Z di Amerika merasa cemas dan kesepian meski terkoneksi digital. Mereka punya ribuan teman di media sosial, tapi minim relasi bermakna. Di Jerman, sebuah gereja eksperimental bahkan menggelar kebaktian menggunakan AI sebagai “pendeta virtual”. Fenomena ini memicu debat: apakah manusia mulai mengganti Tuhan dengan algoritma?
Di Indonesia, tren “spiritualitas instan” juga menjamur. Meditasi berbasis aplikasi, tarot online, hingga kelas *manifesting* menjamur di TikTok. Semua menjanjikan ketenangan instan, tanpa komitmen, tanpa kewajiban moral. Ini hanya plester untuk luka batin, bukan solusi. Ketenangan semu, seperti obat penghilang rasa sakit, yang tidak menyentuh akar persoalan: makna hidup.
Baca juga: Al-Qur'an dan Ilmu Pengetahuan: Sifat Penemuan Ilmiah Manusia dan ‘Pelampung’ AgamaAkal, kata Quraish Shihab, seperti kemampuan berenang. Ia berguna saat air tenang. Tapi ketika badai datang, perenang dan yang tak bisa berenang sama-sama butuh pelampung. “Agama adalah pelampung itu,” tulisnya.
Di Barat, pelampung itu sempat dibuang. Kini, mereka membuat penggantinya: agama baru berupa ideologi atau kepercayaan modern. “Karena manusia,” kata Quraish Shihab, “selalu mendambakan tiga hal: kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Gabungan ketiganya disebut suci.” Dari pencarian itu lahir ilmu, seni, dan akhlak.
Faktanya, ketika AI menjanjikan dunia tanpa batas, manusia justru merindukan batas: nilai, etika, dan rasa suci. Fenomena “detoks digital” dan lonjakan minat pada kajian agama di platform daring adalah sinyal kuat: teknologi tak bisa memberi jawaban eksistensial.
Baca juga: Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan: Konteks antara Kata atau Ayat
Mengapa Agama Akan Selalu RelevanAgama bukan sekadar perangkat ritual, melainkan sumber nilai yang menjaga manusia tetap manusia. Quraish Shihab menulis, “Selama manusia hidup dalam ketidakpastian, selama itu pula agama dibutuhkan.” AI bisa mengatur hidup, tapi tak bisa memberi makna. Robot bisa menjawab *apa* dan *bagaimana*, tapi bukan *mengapa aku ada*.
Ketika perang Rusia-Ukraina pecah, ketika pandemi COVID-19 melanda, dan ketika resesi global menghantui, pencarian spiritual melonjak. Google Trends mencatat, kata kunci “doa” dan “makna hidup” mencapai puncak tertinggi selama dekade terakhir. Fenomena ini mengulang sejarah: setiap kali badai datang, pelampung itu dicari.
Maka, jawaban atas pertanyaan “Masihkah agama relevan?” sudah ada dalam sejarah dan kenyataan hari ini. Ketika manusia kehilangan agama, ia menciptakan penggantinya. Karena tanpa rasa suci, manusia bukan lagi manusia.
(mif)