LANGIT7.ID, Jakarta - Potensi budidaya ikan air tawar, khususnya untuk kebutuhan konsumsi seperti
gurami, diyakini memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan.
Ikan yang biasa diolah asam manis ini bahkan sampai dijuluki sebagai rajanya ikan air tawar. Julukan itu bukan tanpa alasan, melainkan karena gurami memiliki peluang yang sangat terbuka di pasar.
"Gurami itu rajanya ikan air tawar, karena lebih terbuka di pasar, mulai dari pembibitan sampai pembesarannya, termasuk dari harganya yang terbilang cukup menggiurkan," kata pembudidaya ikan gurami asal Bogor, Fahrurrozi dikutip dari kanal YouTube CapCapung.
Pernyataan itu juga didukung dengan program Kementerian Kelautan dan Perikanan 2021-2024. Di mana pengembangan subsektor perikanan budi daya terus didorong tren produksinya hingga mampu lebih tinggi dari perikanan tangkap.
Baca Juga: Kampoeng Banyumili, Resto Instagramable Berkonsep Alam Pedesaan
Diketahui, total produksi perikanan budidaya pada 2020 mencapai 15,37 juta ton atau senilai Rp153 triliun. Dengan target produksi perikanan budidaya pada 2024 sebesar 20,65 juta ton atau senilai Rp250 triliun.
Selain itu, produk subsektor perikanan budidaya juga berpeluang ekspor, karena banyaknya peminat dari luar negeri. Namun, Indonesia baru bisa memenuhi sekitar 3,50 persen pada 2020, sehingga perikanan budidaya masih berpotensi besar untuk dikembangkan.
Begitu juga yang dirasakan Rozi, dia mengaku pemasaran ikan gurami ini lebih mudah untuk dilakukan. Di kolam budidayanya itu, dia melakukan pembibitan yang siap jual ketika masuk usia 25-35 hari.
"Itu kita sudah ada pasar dan selisih harga. Kalau untuk penjualan kita sistemnya per ekor, mulai dari ukuran larva hingga sedang," jelasnya.
Walaupun berpeluang ekspor, tapi Rozi sendiri masih berfokus untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, seperti Jabodetabek. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan produk perikanannya itu untuk segera menjangkau pasar global.
"Dalam waktu dekat ini kita memang ingin merambah ke dunia ekspor. Kita sedang usahakan untuk bisa menjalin kemitraan sehingga memudahkan prosesnya," jelas dia.
Menurutnya, budi daya gurami terbilang gampang-gampang susah. Selain membutuhkan lahan yang cukup untuk kolam, perawatan gurami juga perlu memperhatikan berbagai faktor pendukungnya.
Seperti kualitas air, pakan, kepadatan benih, hingga masuk ke dalam tahap sortir. Selain itu, pemula juga perlu memperhatikan predator di kolam budidaya yang biasanya berasal dari larva capung.
(jqf)