LANGIT7.ID, Jakarta - Masjid mempunyai kekuatan yang cukup efektif untuk membangun gerakan peduli lingkungan. Hal tersebut terlihat pada struktur kepemimpinan masjid yang berbasis jamaah.
"Nilai berjamaah di masjid betul-betul bisa kita terapkan dalam gerakan pengelolaan lingkungan," ujar Anggota Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Muhammadiyah, Dr Triyono, dalam webinar Islam dan Gerakan Shodaqoh Sampah Berbasis Masjid, Rabu (4/8/2021).
Dia menjabarkan, nilai-nilai jamaah itu ada pada aktivitas shalat di mana makmum mengikuti komando imam. Kemudian elemen lain seperti remaja masjid sebagai penggerak dan kaderisasi, serta majelis taklim sebagai wadah edukasi.
"Insyallah akan menggerkkan masyarakat. Kita tahu kegitan di masyarakat kalau untuk kegiatan masjid mendukung sebab memiliki jiwa sosial yang tinggi meskipun belum pernah shalat berjamaah," tuturnya.
Gerakan jamaah ini menjadi penting untuk menumbuhkan rasa saling memiliki. Nilai kemasyarakatan ini merupakan modal kuat bagi masjid dalam memberikan pencerahan dan dakwah lingkungan.
"Dari masjid inilah kita bisa menggerakkan persoalan yang berhubungan dengan pengelolaan sampah," imbuh Triyono.
Muhammadiyah telah melakukan reformasi gerakan lingkungan berbasis jamaah sejak lama dengan merilis program Gerakan Shodaqoh Sampah Warga Muhammadiyah. Kegiatan berbasis masjid ini pertama kali dimulai di Masjid Al Muharram, Kampung Brajan, Kasihan, Bantul pada Juli 2013.
Gerakan Shadaqah Sampah berbasis masjid ini kemudian menginspirasi lahirnya program eco-masjid yang telah dicanangkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) pada November 2017.
Belum lama ini, TKN PSL Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi RI juga membuat program serupa dengan merilis Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (Gradasi) Berbasis Masjid.
(bal)