LANGIT7.ID, Jakarta - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan bahwa visa digital nomad menjadi inovasi baru dalam merespons arus digitalisasi dan pola perilaku karyawan yang diperbolehkan untuk bekerja jarak jauh.
Menurut Sandiaga, istilah remote worker saat ini telah memasuki tahap akhir pembahasan sehingga pihaknya akan terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait. Hal tersebut diharapkan bisa menjadi salah satu terobosan dari regulasi.
"Karena salah satu poin daripada travel and tourism development index kita yang sangat membaik adalah koordinasi antara kementerian/lembaga. Kita harapkan dalam waktu segera akan kami berikan updatenya,” kata Sandiaga dikutip Selasa (28/6/2022).
Baca juga: Bukan Dongeng, Ada Negeri di Atas Awan di Daerah IniSandiaga menyampaikan bahwa fenomena
work from anywhere ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga seluruh dunia.
"Dari hasil survei terkait digital nomad ini tercatat sebanyak 95 persen menunjukkan Indonesia khususnya Bali menjadi tujuan pertama bagi penikmat remote worker," katanya.
Menurutnya, kebijakan visa digital nomad juga selaras dalam mendukung tercapainya target 1,5 juta wisatawan mancanegara untuk berwisata di Bali. Sehingga pihaknya berharap kualitas kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali bisa mencapai antara 50 hingga 60 persen.
"Dengan length of stay yang lebih panjang dan jumlah belanja yang semakin tinggi diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat. Kami ingin mereka lebih lama tinggal di Bali dan kami ingin pengeluarannya lebih berdampak terhadap ekonomi lokal saat mereka berkunjung dan berwisata di Bali,” kata Sandiaga.
Sandiaga memaparkan pengeluaran yang dilakukan selama berada di Indonesia antara lain, akomodasi 40 persen, makan dan minum 27,5 persen, belanja 7,89 persen, dan kesehatan 4,9 persen. Serta lima negara dengan penyumbang wisman ke Bali paling tinggi adalah Australia, Singapura, Inggris, Amerika Serikat, dan Prancis.
“Kami akan terus melakukan orkestrasi dan sinkronisasi agar rencana promosi ke depan Bali menjadi top of mind dari wisatawan mancanegara. Kami juga akan terus menggelar event internasional serta mendukung Bali sebagai kawasan workcation bagi para digital nomad dengan
length of stay yang panjang dan berkualitas dengan kemudahan-kemudahan yang kami berikan,” ujar Sandiaga.
Baca juga: Akulturasi Budaya jadi Daya Tarik Desa Wisata Pecinan GlodokSandiaga juga menyampaikan destinasi wisata yang dibalut dengan storynomics yang kuat dapat menarik lebih banyak wisatawan. Seperti Desa Wisata Pecinan Glodok, Jakarta Barat, memiliki storynomics tourism yang kuat karena merupakan hasil akulturasi dari budaya Tionghoa, Sunda, Betawi, hingga Jawa.
Desa Wisata Habib Basirih dan Desa Wisata Taman Loang Baloq yang memiliki kisah spiritual yang mendalam, dimana di desa tersebut tersimpan makam para ulama besar. Desa Wisata Habib Basirih saja per harinya mampu menarik antara 5 sampai 10 ribu orang.
“Cerita-cerita seperti ini yang akan kami terus kembangkan karena ini merupakan cerita-cerita yang sangat memiliki akar di kehidupan lokal setempat tetapi juga bisa dikemas menjadi promosi-promosi sebuah destinasi wisata yang akan berdampak terhadap kebangkitan ekonomi,” katanya.
(sof)