LANGIT7.ID, Jakarta - Timnas Indonesia bakal menghadapi Curacao di laga
FIFA Matchday pada 24 dan 27 September 2022. Merujuk sejarah pembentukan federasi, sepak bola Curacao lebih tua dari Indonesia.
Sejarah sepak bola Curacao dengan Indonesia memiliki kemiripan dengan adanya sentuhan kaum agamawan pada tahun-tahun awal perkembangannya. Dunia sepak bola Curacao lebih dulu tumbuh pada 1909 Masehi.
Baca Juga: Shin Tae-yong Ungkap Alasan Pemanggilan M Rafli Meski Performa MenurunCuracao merupakan pulau Karibia kecil yang terletak tepat di utara pantai Venezuela. Curaçao adalah bagian dari Kerajaan Belanda, seperti halnya pulau Aruba, Bonaire, Sint Maarten, Sint Eustatius dan Saba, bersama-sama dikenal sebagai bekas Antillen Belanda.
Klub pertama di Curaçao didirikan pada saat pulau itu hanya memiliki 25.000 penduduk. Para pemuda yang telah menghabiskan waktu di Belanda untuk belajar mulai bermain
sepak bola dan menyukai permainan yang bersatu di Republik CVV. Saat itu, tidak ada lapangan sepak bola di Curaçao dan pertandingan pertama antara Republik CVV dan tim marinir Belanda berlangsung di taman Gereja Santa Famia.
Para Biarawan yang juga menjalankan sekolah-sekolah, memainkan peran penting dalam tahap awal pengembangan sepak bola. Mereka turut menyebarkan olahraga dan juga mengorganisir sukarelawan untuk membersihkan dan mempersiapkan lapangan pertama di Skalo dan Mundo.
Pada 1921 bulan Agustus, Federasi Sepak Bola Curaçao (Curaçaose Voetbal Bond) CVB didirikan dan menyelenggarakan Kejuaraan Curaçao pertama dengan delapan klub berpartisipasi. Kemudian tahun 1926 seleksi nasional pertama Curaçao melakukan perjalanan ke Haiti untuk bermain dalam turnamen melawan Haiti, Jamaika dan Santo Domingo. Seleksi Curaçao berhasil dengan cukup baik di turnamen, dengan beberapa kemenangan atas Haiti dan Santo Domingo.
Baca Juga: Iwan Bule Minta Skuad Garuda Tampil Percaya Diri Lawan CuracaoSementara dunia sepak bola di Indonesia merujuk berdirinya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dimulai pada 1930. Namun, jauh sebelum itu sejumlah klub sepak bola telah ada seperti PSM Makassar (Makassar Voetbal Bond, tahun 1915), PPSM Magelang (Indonesische Voetbal Bond Magelang, tahun 1919), dan Persis Solo (Vorstenlandsche Voetbal Bond, tahun 1923).
Riwayat perjalanan sepak bola Indonesa tak lepas dari sentuhan Muhammadiyah. Pendiri PSSI, Insinyur Soeratin Sosrosoegondo juga aktif sebagai warga Muhammadiyah, selain sosok Muhammadiyah lainnya, Abdul Hamid BKN.
Soratin mengarsiteki pembangunan lapangan sepak bola yang dibangun Muhammadiyah di Jalan HOS Cokroaminoto No.17, Pakuncen, Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Setelah rampung lapangan tersebut diberi nama Lapangan Asri.
Di lapangan tersebut Umat Islam setempat melakukan salat ied setiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sehingga Asri sering diasosiasikan dengan akronim Arena Sholat Riyaya (arena salat lebaran).
Baca Juga: Jelang Timnas Indonesia VS Curacao, Kondisi Asnawi Belum PrimaLapangan Asri dijadikan sebagai tempat berlatih PS HW UMY. Selain itu juga dijadikan tempat pertandingan klub-klub besar di masa kolonial seperti turnamen Pertandingan Voetbal Besar yang digelar oleh PSSI pada 31 Maret sampai 2 April 1934.
Pendiri PSSI lainnya adalah Abdul Hamid BKN. BKN di belakang namanya merujuk pada silsilah keluarga, yakni Bin Kartoirono.
Dalam keluarga Bin Kartoirono, nama lain yang turut berprestasi di bidang sepakbola adalah Djamiat Dalhar, bintang sepakbola Hizbul Wathan yang mampu merobek gawang Vladimir Beara,dari Timnas Yugoslavia, salah satu penjaga gawang terbaik di era 1950-an.
Baik Abdul Hamid maupun Djamiat mengalir darah Muhammadiyah. Abdul Hamid BKN asli Kauman yang pernag menjadi santri dari KH. Ahmad Dahlan, bersama KRH Hajid, H. Sujak, HM Mochhtar, H. Wasool Jakfar.
Baca Juga:
Tiket Timnas Indonesia vs Curacao Hanya Dijual Online
Jelang Timnas Indonesia Vs Curacao: Peringkat Terpaut Jauh, Timnas Cari Pengalaman(asf)