LANGIT7.ID, Jakarta - Salah satu lembaga pendidikan agama yang mengajarkan para penyandang disabilitas tuna rungu dalam mengenal Islam yakni Pondok Pesantren Tunarungu Darul A'shom, Depok, Sleman, Yogyakarta. Ada 120 santri tuli di pesantren ini yang diasuh oleh satu pengajar, yaitu Ustaz Abu Kahfi.
Manager Penghimpunan Baitul Maal Muamalat (BMM), Muhammad Riandy menyampaikan bahwa pihaknya kini tengah mendalami terkait hak disabilitas tuna rungu dalam mengenal Islam.
Lanjut Riandy, pihaknya mengaku baru mengetahui isu tersebut melalui informasi yang disampaikan
Langit7.id. Sebab itu pihaknya akan mendukung penuh akan hak disabilitas tuna rungu dalam mengenal Islam.
"Kehadiran kami sebagai filantropi Islam, sebagai amil zakat tentunya, memiliki peran kita menyampaikan kepada masyarakat bahwa banyak saudara-saudara kita yang harusnya bisa mengenal Islam dengan baik," ujar Riandy dalam webinar
Langit7.id bertajuk 'Hak Disabilitas (Tuna Rungu) Dalam Islam', Selasa (27/9/2022).
Oleh karena itu, kata Riandy, BMM ingin ikut serta mengajak lapisan masyarakat untuk membangun kesadaran dalam membatu tuna rungu memelajari Islam.
Baca Juga: Hayrat Foundation Siapkan Fasilitas Khusus untuk Kelompok DifabelSalah satunya dengan mencanangkan program training of trainer dengan tujuan menambah tenaga pengajar guna membimbing para penyandang tuna rungu dalam mengenal Islam lebih dalam.
"Namun dengan keterbatasannya, maka dia harus didukung dalam banyak faktor," ujarnya.
Lanjut Riandy, BMM hadir dalam kesempatan ini sebagai jembatan kebaikan dengan memberikan solusi. Dia memaparkan bahwa pihaknya memiliki empat peran dalam membantu hak disabilitas tuna rungu mengenal Islam.
Pertama, sebagai jembatan antara donatur dan penerima manfaat. Guna menyampaikan apa yang perlu dibutuhkan oleh penerima manfaat agar mendapatkan bantuan yang sesuai kebutuhan.
Kemudian, kata Riandy, melakukan program-program yang belum tersentuh masyarakat luas dan pemerintah. Sebab tugas dari amil zakat berbagai sudut yang belum ter-
cover oleh masyarakat umum.
"Bahwa banyak saudara kita yang tuna rungu ternyata belum bisa mengenal Islam ini belum tersentuh. Ini peran kami tentunya harus hadir dan menyampaikan kepada masyarakat dan donatur untuk ikut andil dalam membantu penyelesaian solusi masalah ini," ujarnya.
Baca Juga: Curhat Rahmat ke Jokowi: Ingin Gadai Ijazah untuk Modal UsahaSelanjutnya yakni advokasi, bukan hanya sekedar memberikan program tanpa berkelanjutan, namun memberikan sejumlah progam yang membuat pemerintah ataupun stake holder turut ikut andil dalam menyukseskan program tersebut.
"Niatan kami untuk bisa hadir dalam program penuntasan melawan keterbatasan kepada para teman tuli kita dalam mengenal Islam, sehingga makin banyak stakeholder yang hadir untuk bisa support," ujar Riandy.
Terakhir yakni berfokus pada syiar. Maka dari itu, kata Riandy, terkait isu hak disabilitas mengenal Islam menjadi prioritas program yang harus dijalankan.
"Saudara kita disabilitas ini mempunyai hak yang sama dan harus kita dukung, harus support system yang juga komprehensif," jelasnya.
(zhd)