LANGIT7.ID, Jakarta- - I’tikaf merupakan ibadah yang sangat dianjurkan pada 10 hari terakhir Ramadhan. I’tikaf dilakukan di masjid. Bisa 24 jam atau hanya mengambil malamnya saja. Terpenting niat untuk mengejar keistimewaan malam-malam Ramadhan.
Apalagi, Allah mengisyarakatkan lailatul qadar turun pada 10 terakhir Ramadhan. Demi meraih lailatul qadar, seorang muslim hendaknya senantiasa memperbanyak ibadah. Selain puasa, ada banyak ibadah yang bisa dilakukan seperti tilawah Al-Qur’an, dzikir, hingga sedekah.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menjelaskan, lailatul qadar merupakan malam yang didambakan seluruh umat Islam di dunia. Pada malam ini, setiap amalan akan diganjar seolah-olah dikerjakan selama seribu bulan.
“Disembunyikan Allah di antara hari-hari Ramadhan, itu tanda kasih sayang Allah tak memberitahu kapan pastina malam lailatul qadar. Jika Allah beritahu, maka berantakan dunia ini,” kata Buya Yahya saat menyampaikan kajian Ramadhan secara daring, Selasa (11/4/2023)
Maka itu, kata dia, umat Islam tidak sepatutnya memilih-milih hari atau waktu untuk memperbanyak ibadah. Jika memperbanyak ibadah sejak awal Ramadhan, atau setidaknya 10 terakhir Ramadhan, maka sudah pasti mendapatkan lailatul qadar.
“Menghidupkan ibadah menggapai lailatul qadar bisa di awal waktu atau di akhir waktu, tidak ada ketentuan, namun diutamakan di akhir waktu,” ungkap Buya Yahya.
Buya Yahya menegaskan, siapapun yang memperbanyak ibadah untuk mencapai lailatul qadar, maka dia akan mendapatkannya. Sekalipun dia menemui lailatul qadar dan tidak sadar telah mendapatkan kemuliaan itu.
“Tidak harus di masjid, bisa di rumah. Jangan sampai karena tidak ke rumah Anda tidak membuat dan mendapatkan kebaikan. Bagi perempuan yang di rumah sementara suami di masjid, jangan mau ketinggalan, bangun perbanyak istighfar mohon ampun dan ibadah malam,” ungkap Buya Yahya.
Waktu dan Tata Cara I’tikafDalam buku Tuntunan Ibadah Ramadhan dan Hari Raya karya R. Syamsul dan M. Nielda, Rasulullah SAW memiliki kebiasaan untuk melaksanakan i’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan. Sebagaimana dikatakan dalam hadits dari Aisyah RA:
“Bahwasanya Nabi SAW beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan sampai beliau dipanggil Allah Azza wa Jalla, kemudian istri-istri beliau (meneruskan) beri’tikaf setelah beliau wafat.” (HR Muslim)
Mengutip buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-Hari dari Kandungan hingga Kematian karya Dr. Muh. Hambali, tata cara i’tikaf bisa dilakukan seperti berikut:
1. Membaca Niat I’tikaf
Niat i’tikaf harus ditentukan sebelum melakukan i’tikaf. Apabila dilakukan karena nazar, mazhab Syafi’i mensyaratkan untuk manta’yin’menentukan niat. Namun, bila dilakukannya pada 10 malam terakhir Ramadhan, maka bacaan niatnya:
???????? ?????????????? ??? ????? ?????????? ??????? ??????? ????????
“Aku berniat i’tikaf di masjid ini, sunnah karena Allah Ta’ala.”
2. Berdiam Diri di Masjid
Kegiatan yang dilakukan saat i’tikaf adalah dengan berdiam diri di dalam masjid. Bukan hanya diam, tapi sambil memperbanyak dzikir, tafakkur, membaca tasbih, dan diutamakan untuk banyak membaca Al-Qur’an. Bisa juga memperbanyak shalat sunnah di masjid.
3. Mendekatkan Diri kepada Allah Ta’ala
I’tikaf bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbanyak amalan, berdoa dan merefleksi kesalahan yang diperbuat. Saat beri’tikaf juga dianjurkan membaca doa:
?????????? ??????? ??????? ??????? ????????? ??????? ??????
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku.”
(ori)