LANGIT7.ID-Dalam sunyinya sepertiga terakhir bulan Ramadhan, atmosfer spiritual di berbagai penjuru dunia Islam mengalami eskalasi yang luar biasa. Di balik deretan shalat malam yang panjang dan tilawah yang tak terputus, ada satu fragmen kecil namun sangat vital yang menjadi denyut nadi pencarian Lailatul Qadar. Fragmen itu adalah sebuah doa, sebuah permohonan yang ringkas namun memiliki kedalaman teologis yang menembus batas-batas kemanusiaan. Di malam yang nilainya melampaui seribu bulan, doa ini menjadi jembatan paling intim antara hamba yang berlumur khilaf dan Pencipta yang Maha Pemaaf.
Sebagaimana diurai dalam risalah Lailatul Qadar yang disusun oleh Muhammad Ibn Syami Muthain Syaibah, doa ini bukanlah produk kreativitas manusia biasa. Ia lahir dari sebuah dialog intelektual dan spiritual antara Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anha dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Muhammad Ibn Syami menukil sebuah riwayat sahih dari Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah yang menjadi fondasi utama dalam menghidupkan malam-malam ganjil.
Aisyah pernah bertanya kepada Nabi mengenai apa yang sebaiknya diucapkan jika ia meyakini tengah berada dalam dekapan Lailatul Qadar. Jawaban Nabi sangat presisi, beliau memerintahkan untuk mengucapkan:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيYa Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau senang memaafkan, maka ampunilah (maafkanlah) aku.Secara linguistik dan interpretatif, penggunaan kata
Al Afuwwu dalam doa ini memiliki signifikansi yang sangat mendalam dibandingkan dengan kata ampunan biasa. Dalam literatur ulama dunia, seperti yang dijelaskan oleh Imam al-Ghazali dalam Al Maqshad al-Asna, kata Al Afuwwu merujuk pada penghapusan dosa secara total hingga bekas-bekasnya hilang dari catatan amal. Jika ampunan (maghfirah) sering kali diartikan sebagai penutupan dosa, maka pemaafan (afwu) adalah penghapusan jejak yang membuat pelakunya tidak lagi merasa malu di hadapan Tuhan pada hari pembalasan kelak.
Pilihan kata ini menunjukkan betapa strategisnya doa tersebut di malam Lailatul Qadar. Malam yang di dalamnya segala urusan yang penuh hikmah dirinci, sebagaimana disebut dalam surat Ad Dukhan, memerlukan prasyarat batin berupa kesucian dari beban masa lalu. Muhammad Ibn Syami Muthain Syaibah menekankan bahwa dengan memperbanyak doa ini, seorang Muslim sedang melakukan upaya negosiasi spiritual tingkat tinggi. Ia mengakui sifat dasar manusia yang sering alfa, sembari memuji sifat Tuhan yang sangat mencintai tindakan pemaafan.
Dalam perspektif yang lebih luas, doa ini juga mengandung tarbiyah atau pendidikan karakter. Ketika seorang hamba memohon maaf dengan kalimat Tuhibbul Afwa (Engkau senang memaafkan), ia secara tidak langsung diingatkan untuk juga menjadi pribadi yang pemaaf terhadap sesama makhluk. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam karyanya Majalis Syahri Ramadhan menambahkan bahwa pengulangan doa ini di sepuluh malam terakhir adalah bentuk konsistensi hamba dalam mencari rida Ilahi. Ia adalah pengakuan yang tulus bahwa setinggi apa pun kualitas ibadah seseorang, ia tetap membutuhkan rahmat dan maaf dari Sang Pencipta.
Kerahasiaan Lailatul Qadar di antara malam-malam ganjil menjadikan doa ini sebagai teman setia dalam penantian. Di tengah ketidakpastian koordinat waktu, doa ini menjadi kepastian bagi jiwa. Ia dibaca saat iktikaf, di sela-sela sujud shalat malam, hingga menjelang waktu sahur. Muhammad Ibn Syami mengisyaratkan bahwa mereka yang lidahnya basah dengan doa ini sepanjang pencarian Lailatul Qadar, sesungguhnya telah mendapatkan inti dari keberkahan malam tersebut, yakni transformasi diri menjadi manusia yang kembali fitri.
Sebagai simpulan, doa yang diajarkan kepada Aisyah ini adalah simbol dari kerendahan hati manusia yang paling jujur. Di malam yang begitu agung, manusia tidak diminta untuk meminta kekayaan duniawi atau kejayaan materi, melainkan diminta untuk meminta sebuah penghapusan dosa yang paripurna. Sebab, bagi mereka yang memahami hakikat perjalanan ruhani, tidak ada keberuntungan yang lebih besar daripada menyongsong fajar Lailatul Qadar dalam kondisi telah dimaafkan secara total oleh Sang Pemilik Semesta.
(mif)