Ketua PP
Muhammadiyah, Saad Ibrahim, mengungkapkan tata cara warga Muhammadiyah yasinan. Memang, cara yasinan warga Muhammadiyah tidak menampilkan secara simbolis kegiatan yasinan.
"Muhammadiyah dan 'Aisyiyah itu juga yasinan, tapi pada umumnya tidak dari Yasin sampai kemudian ayat yang terakhir. Kadang-kadang yasinan itu cukup satu ayat, itu sudah dianggap yasinan, karena satu ayat itu tetap bagian dari Surah Yasin," kata Saad di laman resmi Muhammadiyah, Selasa (13/6/2023).
Saad lalu bergurau bahwa warga Muhammadiyah tidak bisa dikategorikan tidak pernah yasinan. Hanya saja cara yasinan warga Muhammadiyah berbeda dari pengetahuan mainstrem masyarakat muslim di Indonesia.
Baca juga:
Alasan Muhammadiyah Usul Libur Idul Adha Jadi 2 HariMerujuk Surah Yasin ayat 82, Saad menjelaskan ayat itu dapat dipetik dua pelajaran. Pertama, memperkokoh dimensi teologis muslim. Sebab dengan kehendak yang begitu variatif, Allah SWT merealisasikannya hanya dengan 'Kun Faya kun'.
"Yaitu untuk menimbulkan di hati kita ini perasaan bahwa begitu hebatnya Allah SWT, kalau menghendaki sesuatu cukup mengatakan kun lalu fayakun. Tentau antara kun dan fayakun itu tidak penting kapan terjadinya, bisa seketika, bisa lama, tidak penting. Tapi, tetap kemudian terwujud," kata Saad.
Kedua, sebagai hamba, manusia bisa mengukuti akhlak Allah SWT. Oleh karena itu, jika ingin merealisasikan kehendak, manusia diminta agar memiliki keamauan yang baik dan benar.
Sebagaimana pernyataan Syekh Yusuf Qardhawi, manusia dianggap bukan apa-apa kecuali memiliki kemauan. Termasuk tinggi dan rendahnya seseorang ditentukan oleh besar dan kecilnya kemauan.
Baca juga:
Setiap Manusia Punya Ajal, Buat Kenangan Terbaik di DuniaPengajaran demikian bisa dipraktikkan dalam mengurus Muhammadiyah, yakni diawali dengan keinginan yang baik dan benar. Itu agar Muhammadiyah bisa berbuat dan mengaktualisasikan kehendaknya.
"Kemauan yang baik dan benar yang dimiliki oleh Muhammadiyah ini mengantarkannya menjadi organisasi Islam terbesar di dunia. Dengan kebesarannya, Muhammadiyah memberikan kepeloporan, salah satunya mendirikan universitas pertama dari Indonesia di luar negeri," ujar Saad.

(ori)