LANGIT7.ID-, Jakarta- -
Ajal atau kematian merupakan batas kehidupan setiap mahluk hidup di dunia. Setiap orang memiliki takdir dan waktu yang ditentukan oleh Allah SWT untuk mengakhiri kehidupannya di dunia.
"Setiap kita itu ada ajalnya, ada batas usianya. Kenapa di dalam surah ketujuh (Al-A'raf) ayat ke-34 kata ajal begitu ditekankan? Ini untuk memberi kesan kehidupan di dunia ini tidak abadi, akan ditinggalkan," ujar Ustadz Adi Hidayat (UAH) di salah satu tausiahnya, Selasa (13/6/2023).
Saat ajal datang lalu dipindahkan ke tempat lain yang lebih abadi, maka manusia dituntut meninggalkan kenangan-kenangan yang baik. Menurut UAH, cara mengisi ajal supaya baik disebut umur. Umur bukan sekadar usia, tapi memiliki makna mengisi dengan segala yang bermanfaat.
Baca juga:
Belajar dari Kisah Nabi Sulaiman, Berkurban 20 Ribu Kuda"Selama hidup, kalau ingin dikenang, punya nilai kebaikan bahkan sampai masuk ke alam kubur, tapi nama dan kisahnya tetap harum, maka buatlah dan rencanakan semua aktivitas yang punya nilai manfaat," ujar UAH.
Salah satu amalan yang bisa dilakukan ialah berbicara yang mengandung manfaat. Berbicara yang bermanfaat berarti mengungkapkan perkataan yang positif, membangun, dan mendorong. Menggunakan kata-kata yang memberikan inspirasi, dukungan, dan motivasi kepada orang lain adalah lebih baik.
Penting untuk menghindari penggunaan kata-kata kasar, celaan, atau menyakiti perasaan orang lain. Hindari pula fitnah atau penyebaran informasi yang tidak benar. Jika ada perkataan yang punya potensi menyakiti orang lain, sebaiknya dibaikan.
“Berbicara yang mengandung manfaat. Bila yang akan disampaikan sekiranya tidak bermanfaat bahkan cenderung menyakiti, lebih baik abaikan. Sayyidah Khadijah, istri Nabi SAW, tidak pernah bicara kecuali yang bermanfaat,” ucap UAH.

(ori)