LANGIT7.ID- Dalam kronik peperangan spiritual yang dipetakan oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin melalui kitab Minhajul Muslim Bainal Ilmi wal Amal, kita diajak melihat sosok setan sebagai ahli strategi yang amat sabar.
Jika seorang hamba telah lolos dari jerat syirik, bid'ah, dosa besar, dosa kecil, hingga perkara mubah yang melalaikan, setan tidak akan lantas menyerah. Ia beralih ke taktik yang jauh lebih intelektual dan halus pada tahapan keenam: pengalihan prioritas amalan.
Di tahap ini, setan tidak lagi membujuk manusia untuk berbuat jahat. Sebaliknya, ia mendorong manusia untuk berbuat baik, namun dengan satu jebakan krusial: melakukan amalan yang nilainya lebih rendah (marjuh) sambil meninggalkan amalan yang jauh lebih utama dan mendesak (rajih). Inilah bentuk sabotase spiritual yang sering kali luput dari radar kewaspadaan para ahli ibadah sekalipun.
Al Jibrin memotret fenomena ini dengan sangat tajam. Setan akan menyibukkan seorang penuntut ilmu dengan cabang-cabang pengetahuan yang tidak memiliki urgensi atau tidak bermanfaat secara praktis bagi imannya, sehingga ia kehilangan kesempatan untuk mempelajari ilmu yang benar-benar wajib (fardhu ain).
Dalam aspek finansial, setan mengarahkan seseorang untuk mendermakan hartanya pada hal-hal yang tampak baik namun kurang signifikan dampaknya, sementara ada kebutuhan umat yang jauh lebih darurat yang ia abaikan.
Salah satu pergeseran prioritas yang paling sering terjadi adalah ketika setan membujuk seseorang untuk lebih mencintai ibadah qashirah dibandingkan ibadah muta’addiyah.
Ibadah qashirah adalah amalan yang manfaatnya hanya kembali kepada si pelaku saja, seperti memperbanyak shalat sunnah atau dzikir pribadi di saat lingkungan sekitarnya membutuhkan ibadah muta’addiyah. Ibadah jenis kedua ini memiliki manfaat luas bagi orang lain, seperti berdakwah, mengajarkan ilmu, atau amar maruf nahi munkar.
Akibat dari pengalihan ini, seorang hamba kehilangan pundi-pundi kebaikan dalam jumlah yang sangat besar karena ia lebih memilih asyik dengan kesalehan individunya sendiri.
Taktik ini sangat berbahaya karena pelakunya merasa sedang berada di atas jalan ketaatan. Ia merasa sibuk beribadah, namun sebenarnya ia sedang kehilangan keutamaan yang lebih agung.
Setan sedang berupaya memastikan bahwa meskipun seorang hamba selamat dari api neraka, ia tidak akan pernah mencapai derajat tertinggi di sisi-Nya karena amalannya tidak pernah menyentuh hal-hal yang paling dicintai Allah.
Namun, ketika strategi pengalihan ini pun gagal—ketika seorang hamba tetap istiqamah pada amalan yang paling utama dan teguh dalam tauhidnya—setan akan mengeluarkan kartu terakhirnya yang paling beringas. Ia akan mengerahkan para abdinya dari kalangan jin dan manusia untuk melakukan intimidasi fisik dan psikologis.
Al Jibrin menyebutkan bahwa setan memberikan kuasa kepada para pengikutnya untuk menghina, menyakiti, dan menyiksa para kekasih Allah Azza wa Jalla.
Sejarah mencatat bahwa inilah yang dialami oleh para Nabi dan pengikutnya di setiap zaman. Mereka mengalami pengusiran, penahanan, pelecehan, hingga pembunuhan. Siksaan ini bertujuan untuk memadamkan cahaya kebaikan yang dipancarkan oleh orang-orang shalih tersebut. Ketika godaan internal melalui bisikan hati menemui jalan buntu, setan menggunakan tekanan eksternal melalui tangan manusia-manusia yang telah menjadi pionnya.
Melalui lensa interpretatif Al Jibrin, kita diingatkan bahwa musuh manusia memiliki lapisan strategi yang tanpa batas. Kesadaran terhadap tahapan keenam ini menuntut kita untuk memiliki fiqh prioritas (
fiqhul awlawiyyat).
Beribadah bukan sekadar melakukan apa yang kita suka, melainkan melakukan apa yang paling dituntut oleh Allah dalam situasi tertentu. Menjaga kepekaan terhadap mana amalan yang lebih bermanfaat bagi umat dibandingkan sekadar memuaskan gairah spiritual pribadi adalah cara terbaik untuk mematahkan diplomasi lapis keenam sang musuh abadi.
Setan boleh saja gagal membuat kita menjadi ahli maksiat, namun ia akan sangat puas jika berhasil membuat kita menjadi ahli ibadah yang tidak produktif dan kehilangan amalan-amalan besar yang bisa mengubah peradaban. Kewaspadaan harus terus ditingkatkan, karena setiap inci kebaikan yang kita lakukan akan selalu dicari celah pelemahannya oleh setan.
(mif)