Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 19 Mei 2026
home masjid detail berita

Teka-Teki di Balik Penjara Abu Hurairah: Mengurai Paradoks Doa Sulaiman

miftah yusufpati Selasa, 31 Maret 2026 - 15:32 WIB
Teka-Teki di Balik Penjara Abu Hurairah: Mengurai Paradoks Doa Sulaiman
Perlindungan sejati dari segala bentuk kejahatanbaik yang nampak maupun yang tersembunyibermula dari kemantapan tauhid yang terkandung dalam Ayat Kursi. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sejarah Islam mencatat sebuah insiden yang sepintas tampak sebagai anomali teologis. Di kegelapan gudang zakat Madinah, Abu Hurairah radhiyallahu anhu berhasil menangkap basah seorang pencuri yang belakangan diidentifikasi oleh Rasulullah sebagai setan. Peristiwa ini memicu diskusi panjang di kalangan ulama dunia: jika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam saja pernah mengurungkan niat untuk mengikat jin karena teringat doa Nabi Sulaiman Alaihissalam, lantas mengapa Abu Hurairah seolah memiliki keleluasaan untuk menangkapnya?

Persoalan ini berakar pada permohonan Nabi Sulaiman yang diabadikan dalam Al-Quran surah Shaad ayat 35:

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكاً لا يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي

Ia berkata: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku. (QS. Shaad: 35).

Doa ini memberikan otoritas mutlak bagi Sulaiman untuk menundukkan jin dan setan sebagai pembangun serta penyelam. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah riwayat hampir mengikat setan yang mengganggu salat beliau di tiang masjid, beliau melepaskannya demi menghormati keistimewaan kerajaan Sulaiman. Namun, dalam kasus Abu Hurairah, penangkapan itu terjadi hingga tiga kali tanpa ada halangan "protokoler" langit tersebut.

Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab monumental Fathul Bari memberikan jawaban interpretatif untuk memecahkan problem ini. Menurut Ibnu Hajar, terdapat perbedaan kasta dan jenis setan yang dihadapi.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam kala itu hendak menangkap tokoh atau pemimpin setan (Ifrit), sebuah tindakan yang jika dilakukan akan bersinggungan langsung dengan kekuasaan unik Sulaiman. Sementara itu, sosok yang ditangkap oleh Abu Hurairah hanyalah setan biasa, atau qarin (pendamping) yang memang bertugas menggoda manusia, bukan penguasa di kalangan mereka.

Interaksi antara Abu Hurairah dan setan tersebut berakhir dengan sebuah "transaksi" informasi mengenai Ayat Kursi. Di sinilah letak keajaiban lainnya. Ayat Kursi diakui sebagai ayat paling agung dalam Al-Quran karena mengandung Al-Ismu Al-Adhom atau Nama Allah yang Paling Agung.

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ

Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. (QS. Al-Baqarah: 255).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam berbagai syarahnya menekankan bahwa kehebatan Ayat Kursi terletak pada sepuluh kalimat sempurna di dalamnya yang menegaskan tauhid dan kemandirian Allah (Al-Hayyu wal Qayyum). Nama Al-Hayyu (Yang Maha Hidup) dan Al-Qayyum (Yang Maha Mandiri) dianggap oleh sebagian ulama sebagai Nama Allah yang Agung yang jika disebut dalam doa, maka doa tersebut dikabulkan.

Keistimewaan ayat ini tidak hanya berhenti sebagai pelindung tidur yang membuat setan tidak berani mendekat hingga pagi hari, sebagaimana dibisikkan sang setan kepada Abu Hurairah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasai dalam As-Sunan al-Kubra juga menegaskan dimensi eskatologisnya: barangsiapa membaca Ayat Kursi setiap selesai salat fardu, maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali kematian.

Secara interpretatif, kisah penangkapan oleh Abu Hurairah ini memberikan pelajaran sosiologis-religius yang mendalam. Pertama, ketaatan pada hukum atau doa nabi terdahulu tetap dijaga oleh Rasulullah sebagai bentuk adab kenabian. Kedua, kekuatan seorang mukmin terhadap gangguan ghaib tidak selalu bergantung pada kemampuan fisik untuk menangkapnya, melainkan pada penguasaan terhadap "senjata" spiritual berupa zikir dan ayat-ayat Allah.

Narasi ini mengingatkan bahwa perlindungan sejati dari segala bentuk kejahatan—baik yang nampak maupun yang tersembunyi—bermula dari kemantapan tauhid yang terkandung dalam Ayat Kursi. Abu Hurairah mungkin telah melepaskan setan tersebut dari genggamannya, namun ia telah menangkap sebuah pelajaran abadi bagi seluruh umat: bahwa di hadapan keagungan Al-Hayyu wal Qayyum, segala muslihat setan akan luluh lantuh.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 19 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)