LANGIT7.ID- Bagi seorang hamba yang memiliki benteng pertahanan spiritual berlapis, godaan setan untuk melakukan kesyirikan, bid’ah, hingga dosa besar dan kecil mungkin akan terpental mentah-mentah. Namun, di sinilah letak kecerdikan sang musuh abadi.
Ketika pintu-pintu kemaksiatan terkunci rapat, setan tidak lantas pergi. Ia berpindah ke strategi lapis kelima yang jauh lebih halus, sasarannya bukan lagi moralitas, melainkan produktivitas rohani. Ia menggiring manusia ke dalam zona mubah.
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin dalam karyanya,
Minhajul Muslim Bainal Ilmi wal Amal, membedah fenomena ini sebagai bentuk tipu daya yang sangat mematikan bagi pemilik waktu. Perkara mubah secara hukum fikih memang netral; ia tidak mendatangkan pahala jika dilakukan tanpa niat ibadah, dan tidak pula berbuah dosa.
Namun, di tangan setan, status netral ini diubah menjadi senjata pemusnah usia. Strateginya sederhana namun destruktif: menyibukkan manusia dengan hal-hal yang tidak bermanfaat sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk menabung kebaikan.
Dalam pandangan Al Jibrin, kelalaian manusia terhadap perkara mubah sering kali bermanifestasi dalam bentuk perilaku berlebih-lebihan (israf). Setan menghiasi gaya hidup yang hanya berputar pada urusan perut, pakaian, rumah mewah, dan kendaraan.
Demi mengejar standar kenyamanan mubah ini, manusia rela menghabiskan energi, harta, dan waktu yang luar biasa besar. Ironisnya, karena merasa apa yang dilakukan tidaklah berdosa, banyak orang tidak merasa sedang dalam bahaya.
Inilah kengerian dari tahapan kelima ini. Manusia merasa aman karena tidak sedang berzina atau mencuri, namun mereka tidak sadar bahwa tabungan akhirat mereka kosong melompong. Setan berhasil menciptakan ilusi kesibukan yang sebenarnya adalah kesia-siaan.
Waktu yang semestinya digunakan untuk bertadabbur, menuntut ilmu, atau berkhidmat bagi sesama, tersedot habis hanya untuk memoles gaya hidup mubah yang tidak akan dibawa ke liang lahat.
Al Jibrin menekankan bahwa dampak paling fatal dari tenggelamnya seseorang dalam perkara mubah adalah hilangnya semangat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).
Ketika pikiran sudah tersita oleh urusan dekorasi rumah atau tren pakaian terbaru, gairah untuk mengejar derajat tinggi di akhirat secara perlahan akan padam. Perbuatan mubah yang berlebihan menjadi tirai tebal yang menutupi pandangan manusia terhadap realitas akhirat.
Mereka menjadi begitu sibuk mempersiapkan kenyamanan hidup yang sementara, hingga lupa melakukan persiapan untuk menyongsong perjumpaan dengan Sang Pencipta.
Filosofi setan dalam tahap ini adalah pengurangan (subtraction). Jika ia tidak bisa menambahkan dosa pada catatan amalmu, maka ia akan berusaha mengurangi pahalamu. Ia ingin memastikan bahwa ketika seorang hamba menghadap Allah, ia datang dengan tangan kosong karena seluruh usianya habis digunakan untuk hal-hal yang sifatnya sekadar pemuas keinginan duniawi yang mubah.
Dalam konteks modern, jeratan ini menjadi semakin relevan dengan kehadiran teknologi dan hiburan tanpa batas. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk sesuatu yang mubah tanpa ada faedah duniawi maupun ukhrawi adalah kemenangan telak bagi setan. Manusia dipaksa menjadi penonton kehidupan, bukan pelaku sejarah amal saleh.
Melalui lensa interpretatif Al Jibrin, kita diajak untuk melihat waktu sebagai modal utama yang sangat terbatas. Setiap detik yang dihabiskan dalam perkara mubah tanpa niat yang baik adalah kerugian yang nyata (khusran).
Pertahanan diri dari godaan tahap kelima ini menuntut kecerdasan dalam memanajemen prioritas. Seorang Mukmin harus mampu mengubah perkara mubah menjadi bernilai pahala melalui niat, atau setidaknya membatasinya agar tidak mendominasi porsi hidup.
Perlawanan terhadap setan di zona ini bukan berarti mengharamkan yang halal, melainkan menjaga agar yang halal tidak membuat kita lalai dari yang wajib dan yang utama. Sebab, di balik setiap kenyamanan mubah yang berlebih-lebihan, setan sedang tertawa karena ia telah berhasil membunuh waktu kita secara perlahan tanpa kita merasa sedang diserang.
(mif)