LANGIT7.ID - Di antara faktor penyebab retaknya ikatan keluarga adalah masalah ekonomi. Kurangnya uang belanja atau sulitnya mendapatkan penghasilan yang mencukupi kebutuhan hidup layak menyebabkan banyak orang tidak sanggup menerima kenyataan. Terlebih jika tujuan pernikahan itu dibangun dari sikap materialistik. Namun ada faktor lain yang juga menentukan ketimbang faktor ekonomi.
Pakar parenting Firman Hambali mengutarakan, ada empat faktor yang melandasi dibentuknya sebuah keluarga. Pertama, faktor ekonomi, kedua, fisik, ketiga kehormatan, dan keempat agama.
"Jika kita tidak dapat menggapai kesemua faktor di atas, maka minimal kita harus memilih faktor keempat, yaitu agama. Mengapa demikian? Karena agama yang tertanam dalam jiwa pasangan akan dapat membentuk akhlak yang baik," kata Firman, dalam keterangan tertulis, Senin (30/8/2021).
Akhlak yang baik inilah, lanjut dia, yang nantinya dapat menghadapi ujian rumah tangga seberat apapun. Akhlak yang baik akan melahirkan ketenangan, kesabaran, rasa syukur, pengendalian emosi dan mudah kembali kepada Allah Yang Maha Pemurah. Di sinilah titik sakinah akan tercipta meski dalam keadaan suka maupun duka, saat kaya ataupun papa.
Maka pasangan yang memiliki agama tidak menitipkan cinta pada harta atau menyelipkan kebencian pada kefakiran, melainkan mereka selalu bergandengan tangan, terus melangkah dalam perjuangan, bahu membahu sampai akhirnya berbagai persoalan berlalu.
"Kita mendengar dalam dua tahun terakhir banyak ikatan keluarga terlepas. Banyak cinta yang diikat kuat oleh syariat kandas diterpa badai pandemi. Sampai-sampai ramai dalam berita bahwa pengadilan agama kabupaten tertentu menjadi tempat antrian panjang bagi para pasangan yang mengajukan gugatan perceraian," tuturnya.
Tentu fenomena ini, kata Firman, sangat disayangkan. Menurut dia, ini merupakan kegagalan dalam dakwah pembinaan keluarga bahagia. "Tentu menjadi PR bersama untuk saling memperbaiki cara pandang masyarakat tentang pola kehidupan keluarga," katanya.
Ia menuturkan, untuk mewujudkan keluarga sakinah memang dibutuhkan ilmu yang berkesinambungan. Karena berkeluarga itu bukan hanya sekedar tahu teori tapi juga sanggup untuk mengimplementasikannya dalam praktek keseharian.
Sebagai contoh, saat dua insan mengikat janji dalam mahligai akad suci, mereka begitu bahagia karena orang yang tadinya bukan siapa-siapa tetiba menjadi belahan jiwa. Ini akan bertahan beberapa waktu. Tapi kemudian kehidupan terus berjalan, kebutuhan hidup tak bisa dikesampingkan.
Mulailah tergambar dalam pikiran akan perlunya tempat tinggal yang lebih privasi agar terasa nyaman saat melepas lelah, aman saat melepas pakaian, leluasa ketika curhat, dan tak perlu berbisik jika ingin menyelesaikan pertengkaran kecil.
"Ini belum selesai, kebutuhan kemudian meningkat ketika mulai punya anak bayi, kalau anak sudah besar maka sebuah keluarga harus menyiapkan dana untuk sekolah anak, dan seterusnya. Begitulah rangkaian episode kehidupan keluarga," katanya.
Sehingga siapapun yang berkomitmen membina sebuah keluarga harus tahu kemana mereka akan melangkah.
"Di sinilah perlunya suami-isteri bermusyawarah untuk menyepakati visi dan misi keluarga agar dapat sampai berlabuh di dermaga surga," tuturnya.
(jqf)