LANGIT7.ID, Semarang - Mendesain rumah bergaya arsitektur modern dengan sentuhan tempo dulu semakin mudah diwujudkan. Perpaduan antara tembok semen ekspose, gebyok, atau kusen dari ukiran kayu jati memberi keunikan tersendiri sebuah hunian.
Konsep itu menjadi pilihan Solikin, 51, warga Satria Selatan V Plombokan, Semarang Utara, Kota Semarang. Saat memasuki rumah yang dibangun di atas lahan seluas 15 x 30 meter persegi persegi pada 2005 tersebut, pengunjung seperti terlempar ke masa lampau.
Dalam rumah dua lantai yang cukup megah tersebut, terdapat keliran, atau sejenis gebyok berbahan kayu jati tipis bercat hijau pupus, tanpa banyak ukiran. Keliran itu bukan barang antik, melainkan sepenuhnya baru. Model yang dijadikan acuan adalah gaya ukiran dari desa asal Solikin, yakni Bulu Kropak, Grobogan.
“Saya membeli bahannya. Kemudian saya serahkan kepada tukang kayu, untuk mengerjakan,” cerita Solikin, kepada
LANGIT7.id, Ahad (29/8/2021).
Sementara, untuk pintu utama, ia memilih memasang gebyok penuh ukiran. Gebyok model itu biasanya berasal dari Jepara atau Kudus dan juga dibelik Solikin dalam kondisi baru.
Demi menghadirkan keliran dan gebyok untuk memunculkan suasana jawa kuno, Solikin lumayan merogoh kantong cukup dalam.
Gebyok depan rumah Ia beli 16 tahun lalu eharga Rp15 juta. Sementara kusen gebyok untuk tiap kamar, rata-rata Rp7, 5 juta.
“Rumah ini ada empat kamar. Dua di lantai bawah, dan dua lagi di lantai atas,” katanya.
Interior kamar tidur juga tak luput dari sentuhan tradisional. Tempat tidur berbahan kayu jati sengaja didesain dalam model kuno dengan tiang tinggi di empat sudutnya. Tempat tidur ini bisa dipasang kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk.
Belum cukup dengan gebyok dan perabot serba ukir, Solikin memperkuat kesan lawas dengan memasang beberapa poster iklan obat, iklan tembakau, iklan teh bahkan iklan penerbangan Semarang-Batavia tempo dulu.
Iklan obat dengan gambar orang sepuh miliknya bahkan masih menggunakan huruf jawa. Koleksinya itu didapat dari kolektor lalu diperbesar kemudian dibingkai.
![Interior Rasa Lawas lewat Gebyok hingga Poster Jadul dalam Hunian Modern]()
Selain itu ia juga masih menyimpan barang antik seperti setrika kuno, beberapa radio jadul, lengkap dengan koleksi kaset pita. Ia memiliki tak kurang dari 500 kaset pita.
“Untuk barang-barang ini, biasa saya cari di PKL (Kokrosono), soalnya kalau sudah jatuh di kolektor seperti di Kota Lama, harganya sangat mahal,” terangnya.
Ragam barang kuno di Semarang bisa didapat di sentra barang antik atau di emperan pedagang kaki lima di pinggir jalan. Tengok saja di sepanjang Jalan Kokrosono, tak jauh dari jembatan Banjir Kanal Barat.
Jika ingin mendapatkan barang-barang sesuai yang dicari dan banyak pilihannya, kawasan barang antik di kawasan Kota Lama Semarang, bisa jadi solusi. Namun, harga di kawasan ini seperti dibilang Solikin memang lebih mahal.
Solikin memutuskan membangun rumah berkonsep modern-tradisional karena ingin mengingat masa-masa kecilnya ketika berada di desa. Barang-barang yang dimiliki ayahnya, bahkan kakeknya, kurang lebih sama dengan y ang dikoleksinya saat ini.
“Saya kalau nyawang (melihat) rumah bagus itu biasa. Tapi kalau rumah unik. Seperti milik saya, di hati beda (rasanya). Tapi saya kira, rumah saya ini lebih banyak modernnya,” ucapnya.
Selain bangunan ia juga membuat taman cukup luas, dengan lebar sekitar 3 meter hingga ke belakang rumah.
Soal biaya ia mengaku tidak ingan berapa duit yag sudah dikeluarkan untuk membangun rumah mewahnya tersebut.
Alasannya sederhana, tak lama setelah nota pembelian dikumpulkan biasanya dibuang. Akan tetapi ia memperkirakan rumah yang dibangun selama 12 bulan tersebut sudah menyedot dana Rp900 jutaan.
(arp)