LANGIT7.ID-, Jakarta- - Viral video seorang wanita yang diduga mengalami baby blues diamankan di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta.
Petugas terpaksa mengamankan wanita tersebut lantaran nyaris melempar sang bayi dan hendak bunuh diri di rel kereta. Alhamdulillah, ibu dan sang bayi berhasil diselamatkan pihak keamanan stasiun.
Melihat video tersebut, sebagian warganet menyebut sang ibu mengalami sindrom baby blues. Namun, beberapa lainnya mengatakan tindakan yang dilakukan sang ibu bukan baby blues, tapi depresi lain yang bisa dialami pasca melahirkan.
Lalu apa saja tingkatan depresi pasca melahirkan?
Melansir laman Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dosen Psikologi UMS, Andini Dwi Arumsari menjelaskan, baby blues syndrom adalah suatu bentuk kesedihan atau kemurungan yang dialami ibu setelah melahirkan.
Menurut Andini, baby blues syndrom biasanya muncul sementara waktu yaitu sekitar dua hari sampai tiga minggu sejak kelahiran bayi.
Lebih lanjut lagi Andini menjelaskan ketika seorang ibu mengalami baby blues ia akan merasa cemas tanpa sebab, mudah tersinggung, tiba-tiba menangis tanpa sebab, menjadi tidak sabar, tidak percaya diri terhadap kemampuannya menjadi seorang ibu, menjadi sensitive, dan merasa khawatir dengan keadaan bayinya
“Gejala lain yang harus diwaspadai terkait baby blues syndrome adalah ibu mengalami kesulitan tidur, berkurangnya nafsu makan, tidak memperhatikan keadaan anak, dan takut untuk menyentuh anak,” imbuhnya lagi.
Depresi lain yang juga bisa dialami wanita usai persalinan adalah postpartum depression (PPD).
Merujuk laman Mayo Clinic, Selasa (5/9/2023), depresi pasca persalinan diartikan sebagai baby blues pada awalnya, namun gejalanya lebih intens dan bertahan cukup lama.
Depresi peripartum bisa dimulai saat kehamilan dan berlanjut setelah melahirkan. Meski jarang terjadi, gangguan mood ekstrem yang disebut psikosis pascapersalinan juga dapat terjadi setelah melahirkan.
Beberapa gejala yang muncul pada PPD antara lain:
- Perubahan suasana hati yang parah
- Menangis terlalu sering
- Kesulitan menjalin ikatan dengan bayi Anda
- Menarik diri dari keluarga dan tema
- Kehilangan nafsu makan atau makan lebih banyak dari biasanya
- Sulit tidur atau insomnia, atau tidur terlalu banyak
- Kelelahan luar biasa atau kehilangan energi
- Kurangnya minat dan kesenangan pada aktivitas yang biasa Anda nikmati
- Kemarahan yang intens
- Merasa takut And bukan ibu yang baik
- Putus asa
- Perasaan tidak berharga, malu, bersalah atau tidak mampu
- Berkurangnya kemampuan berpikir jernih, berkonsentrasi atau mengambil keputusan
- Gelisah
- Kecemasan parah dan serangan panik
- Pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi Anda
- Pikiran berulang tentang kematian atau bunuh diri
Bila tidak segera diobati, depresi pascapersalinan dapat berlangsung berbulan-bulan atau lebih.
Sementara psikosis pascapersalinan gejalanya lebih parah dari kondisi psikologis lainnya, antara lain:
- Merasa bingung dan tersesat
- Memiliki pikiran obsesif tentang bayi Anda
- Berhalusinasi dan mengalami delusi
- Mengalami masalah tidur
- Memiliki terlalu banyak energi dan merasa kesal
- Merasa paranoid
- Berupaya untuk menyakiti diri sendiri atau bayi Anda
Psikosis pascapersalinan dapat menyebabkan pikiran atau perilaku yang mengancam jiwa dan memerlukan pengobatan segera.

(ori)