LANGIT7.ID, Boyolali - Burung banyak digemari kalangan pehobi karena memiliki kemampuan kiacuannya yang merdu. Namun, tidak mudah untuk bisa mencetak burung kicau yang bisa mengeluarkan suara merdu.
Dibutuhkan perawatan khusus secara telaten dan dalam waktu yang tidak singkat untuk bisa membuat seekor burung mengeluarkan suara kicaunya. Kegagalan dari kalangan pehobi biasanya dikarenakan kurangnya keuletan dalam perawatan burung kicau yang dipeliharanya.
Melihat permasalahan itu, muslim asal Boyolali, Beni Sunarto memanfaatkan peluang tersebut sebagai ladang bisnis. Untuk itu, ia membuka sekolah burung kicau bagi siapa saja pehobi yang dirasa tidak memiliki waktu secara penuh untuk memberikan perawatan yang baik terhadap peliharannya.
![Berawal dari Hobi, Muslim Asal Boyolali Kini Bisnis Sekolah Murai Batu]()
Berawal dari kecintaannya di dunia burung kicau, Beni yang terbilang aktif mengikuti perlombaan burung kicau ini melihat beberapa rekannya memiliki masalah terhadap perawatan burung kicau. Dari situ, ia memanfaatkan peluang yang ada dengan membuka sekolah burung kicau, atau bisa dibilang sebagai tempat penitipan dan perawatan burung kicau milik pehobi.
“Awalnya juga yang titip di sini hanya seputar teman terdekat saja, mulai dari 2-3 burung. Tapi seiring waktu kita makin dikenal dan saat ini sudah ada sekitar 100 ekor burung yang dititipkan di sini dan dibantu oleh enam orang pekerja,” ujarnya dikanal Youtube CapCapung.
Baca juga: Dimulai dari Rumah, Muslimah Ini Sukses Kembangkan Usaha BakeryBeni yang memang memiliki hobi terhadap burung kicau sejak kecil ini, mengaku sudah sedari kecil menghabiskan waktunya untuk merawat burung kicau. Sehingga ia memiliki modal pemahaman terhadap perawatan burung kicau dari pengalamannya yang sudah terjun ke dunia perkicauan sejak lama.
Bahkan, karena relasinya yang cukup memadai juga yang membuatnya terus belajar memahami perawatan burung kicau agar memiliki performa yang baik. Menurutnya, dengan adanya komunitas sangat membantu perkembangan dunia kicau hingga saat ini, sehingga bisnisnya bisa berkembang dengan baik.
“Saya di sini secara tidak langsung harus memecahkan masalah yang ada pada burung kicau titipan ini. Pasalnya memang beberapa merupakan burung lomba yang memiliki masalah performa di lapangan ketika ikut dalam kontes. Jadi saya perlahan harus bisa membuat burung yang ada di sini untuk memiliki jiwa petarung dalam kontes yang baik,” ujarnya.
Boyolali Birdmastering yang didirikannya ini merupakan sekolah burung kicau yang dikhususkan untuk murai batu. Dalam sekolah burung ini juga, Beni berupaya menjawab segala kebutuhan pemilik yang mengalami beberapa kesulitan dalam perawatan, seperti burung mastering, hingga pemberian pakan, dan setelan untuk lomba.
“Untuk lomba kan penilaian juri itu salah satunya seberapa banyak seekor burung bisa menguasai materi, artinya murai batu dilihat kepiawaiannya menirukan suara burung masteran. Di sini pun makanya kami tersedia berbagai jenis burung masteran sebagai guru dari murai batu titipan ini,” ujarnya.
Menurut pengakuannya, sudah banyak alumni Boyololali Birdmastering yang menjadi burung juara di gantangan. Sehingga hal itu akan menguntungkan banyak pihak, seperti mengangkat nama baik pemilik, peternak, termasuk sekolahnya.
Ia mengaku, Boyolali Birdmastering ini secara penuh berfokus dalam perawatan burung dalam sehari penuh. Pemilik tidak perlu khawatir akan perkembangan burung kicaunya, karena perawatan seperti mandi, pakan, nutrisi, kebersihan kandang, penjemuran, dan lainnya sudah dilakukan secara penuh oleh tim Boyolali Birdmastering.
“Perkembangan burung kicau di sini bisa dilihat secara bulanan, kalau memang masih belum sesuai harapan biasanya kita lanjutkan lagi perawatan di sini sampai burung benar-benar memiliki performa yang baik,” jelasnya.
![Berawal dari Hobi, Muslim Asal Boyolali Kini Bisnis Sekolah Murai Batu]()
Sementara untuk kendala, lanjut Beni, karena merawat makhluk hidup tentu tidak terhindar dari kematian. Selain itu, beberapa penyakit yang biasanya dialami burung kicau juga menjadi kendala tersendiri dan akan menghambat perkembangan burung itu sendiri.
Namun, ia mengatakan Boyolali akan melakukan perawatan terhadap burung yang sakit dengan semaksimal mungkin. “Terkadang kalau ada yang mati biaya sekian bulan di sekolah ini ya mau tidak mau kita kembaikan kepada pemilik. Tapi mereka juga biasanya maklum karena namanya makhluk hidup pasti bermain dengan nyawa,” tuturnya.
Rata-rata burung murai batu yang sekolah ditempatnya itu, dirawat selama kurun waktu 8-10 bulan. Setelah itu, tergantung kepada pemilik masing-masing untuk melanjutkan perawatannya.
Artinya setelah lulus sekolah, burung murai batu sudah siap untuk dinikmati kicauannya. Asal, tegas Beni, pemilik harus betul-betul konsisten meneruskan perawatan yang baik terhadap burungnya.
“Setelah lulus, biasanya kami kirim ke pemilik. Di sini yang titip murai batu juga berasal dari beberapa daerah, seperti Makassar, Balikpapan, Medan, bahkan Papua,” jelasnya.
Baca juga: Band Armada Gagas Rumah Makan Subsidi, Satu Porsi Cuma 2500 RupiahBeni mengaku, antrean untuk masuk ke Boyolali Birdmastering ini selalu ramai. Pasalnya, setiap burung yang sudah selesai menjalani masa perawatan, ia selalu mendapatkan titipan burung lainnya yang sudah mengantre sejak lama.
Ia menuturkan, banyak keuntungan yang akan diperoleh pemilik dengan menyekolahkan burungnya di Boyolali Birdmastering ini. Di antaranya hemat waktu dan tenaga dari segi perawatan, termasuk memperbaiki karakter burung yang terkadang terasa cukup liar di dalam sangkar.
“Murai batu itu dikenal sebagai burung cerdas yang mudah menirukan suara burung lainnya. Sehingga kita sediakan burung masteran yang menjadi pakem lomba saat ini, seperti burung lovebird, cucak jenggot, kenari, kapas tembak, dan lainnya. Karena memang satu burung murai batu bisa meniru sampai lebih dari 10 jenis burung lain dengan fasih,” jelasnya.
Beni berharap dari murai batu ini dapat memberikan manfaat bagi banyak orang. Sebab, dari mulai peternak, pehobi, bahkan jasa penitipan seperti tempatnya juga telah mendapatkan banyak keuntungan dari segi nilai ekonomis.
“Intinya semua bisa kita kembangkan, bahkan masih banyak peluang lain, seperti peternak, lomba, aksesoris, sampai pakan pun memiliki banyak nilai keuntungan yang bisa didapatkan asal bisa memanfaatkan peluang yang ada,” imbuhnya.
(zul)