LANGIT7.ID-, Jakarta- - Penarikan dana sebesar Rp13 triliun oleh Muhammadiyah dari PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) memang tidak berdampak signifikan terhadap kinerja bank syariah tersebut. Namun, analis mengimbau investor untuk menahan diri sementara sebelum membeli atau menjual saham BRIS.
Menanggapi isu pengaruh penarikan dana Muhammadiyah, Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, menegaskan bahwa penarikan dana tersebut hanya mewakili 0,04 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) BRIS. Dengan kata lain, likuiditas bank syariah pelat merah ini masih terjaga dengan baik.
"Penarikan dana itu memang tidak signifikan dan likuiditas BRIS masih dapat dipertahankan,"ujar Nafan kepada Langit7.id, Rabu (12/6/2024).
Meski demikian, Nafan merekomendasikan investor untuk menahan diri terlebih dahulu sebelum membeli atau menjual saham BRIS. Menurutnya, ada baiknya menunggu hingga masa suku bunga tinggi berakhir, karena pada saat itu, ada potensi Muhammadiyah untuk menyimpan dananya kembali di BRIS.
"Kalau sudah memasuki era suku bunga yang tidak tinggi, insyaallah nanti muhammadiyah nanti akan masuk, akan meningkatkan savingnya, karena bunga jadi lebih rendah," katanya.
Namun, Nafan tidak memberikan perkiraan kapan tepatnya masa suku bunga tinggi akan berakhir. Ia hanya menyarankan investor untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di BRIS untuk saat ini.
Terkait kisaran harga saham BRIS, Nafan menyebutkan bahwa BRIS memiliki support di level 2030 dan resistance di level 2380. Dengan kata lain, harga saham BRIS berpotensi bergerak di antara rentang tersebut, tergantung pada permintaan dan penawaran pasar.
"Untuk sementara ini, saya rekomendasikan 'hold' saja dulu untuk BRIS," tegas Nafan.
Kendati demikian, Nafan mengatakan bahwa potensi Muhammadiyah untuk kembali menyimpan dananya di BRIS pada tahun ini masih terbuka, bergantung pada kebijakan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Sebagai informasi, berdasarkan data RTI harga saham BRIS hari ini ditutup di level 2.150, mengalami penurunan 0,92%.
Price Earning Ratio (PER) perseroan berada di 14.52 dan
market capital (market cap) di Rp99.18 triliun.
Baca Juga:
Penarikan Dana Muhammadiyah Rp13 Triliun Tak Berdampak Signifikan, Analis: Harga Saham BRIS Sudah Terpriced-In(lam)