LANGIT7.ID-, Jakarta- - Produsen mobil Jepang berusaha mempertahankan posisinya sebagai market leader. Salah satu yang dijadikan andalan adalah mobil listrik hybrida terbaru.
Toyota bergerak agresif karena tidak mau terganggu oleh
merek kendaraan listrik asal Tiongkok yang juga memasuki pasar otomotif di Indonesia. Dunia otomotif tentu sangat paham bahwa Indonesia adalah market terbesar di Asia Tenggara.
Toyota Motor memamerkan Prius hybrid terbarunya pada hari Rabu menjelang pembukaan publik Gaikindo Indonesia International Auto Show yang diselenggarakan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau yang dikenal dengan Gaikindo. Acara yang diikuti oleh 35 produsen mobil ini akan dimulai dibuka untuk umum pada hari Kamis di BSD dan berlangsung hingga tanggal 28 Juli.
Model-model baru – normal hybrid dan plug-in hybrid – akan diimpor dari Jepang, dengan harga sebelumnya sekitar 698 juta rupiah ($43,255).
![Indonesia Pasar Terbesar Asean, Toyota Dorong Kendaraan Hibrida Untuk Jaga Posisi Juara]()
"Teknologi kendaraan listrik hibrida sudah terbukti di pasar internasional,” kata Hiroyuki Ueda, kepala unit pembuat mobil di Indonesia, kepada wartawan saat konferensi pers di tempat acara.
Ueda menambahkan bahwa pelanggan Toyota di Indonesia menikmati keuntungan hibrida seperti penggunaan bahan bakar yang lebih sedikit, yang “sangat bermanfaat untuk lalu lintas padat.” Ibu kota Indonesia adalah salah satu kota dengan lalu lintas paling padat di dunia.
Nissan Motor di hari yang sama mengumumkan akan meluncurkan model hybrid e-Power Serena terbaru untuk pasar Indonesia.
"Peluncuran ini menunjukkan komitmen Nissan dalam menyediakan teknologi canggih,” kata Toshihiro Fujiki, presiden Nissan ASEAN dan Thailand. Model baru ini akan diimpor dari Jepang dan berharga sekitar 640 juta rupiah.
Indonesia telah menjadi basis produsen mobil Jepang, yang menguasai lebih dari 90% pangsa pasar. Toyota, termasuk anak perusahaannya Daihatsu, menyumbang lebih dari 50% penjualan dalam enam bulan pertama tahun 2024, diikuti oleh Honda dan Mitsubishi Motors, menurut kelompok industri. Merek Tiongkok terbesar adalah Wuling Motors, yang berada di peringkat kesembilan dengan pangsa sekitar 3%.
Namun, produsen mobil Tiongkok baru-baru ini mencoba mendobrak pasar dengan kendaraan listrik mereka, termasuk melalui investasi pada produksi lokal. Tahun ini, lima pabrikan Tiongkok, seperti BYD, yang memasuki pasar mobil penumpang Indonesia pada bulan Januari, dan BAIC Motor milik negara memulai debutnya di pameran motor tahunan Indonesia, memamerkan kendaraan listrik terbaru mereka.
BYD memamerkan model penumpang terbarunya di pameran tersebut: Atto 3 dan Dolphin, yang masing-masing dibanderol dengan harga 465 juta dan 365 juta rupiah, dan akan dikirim dari Tiongkok.
Perusahaan juga meluncurkan kendaraan serba guna listrik M6 yang dirancang untuk pasar Indonesia.
“Kami memahami masyarakat Indonesia menekankan ikatan kekeluargaan dan aktivitas komunal yang sangat kuat,” kata Eagle Zhao, presiden direktur BYD Motor Indonesia, dalam konferensi pers, seraya menegaskan bahwa kendaraan multiguna – yang umumnya memiliki kapasitas penumpang lebih besar – sesuai dengan gaya hidup orang Indonesia.
Menyinggung tentang pembukaan pabriknya di Thailand baru-baru ini, ia berkata, "Pencapaian ini menyoroti posisi terdepan BYD di pasar kendaraan energi baru global dan dedikasi kami untuk mendorong kemajuan mobilitas ramah lingkungan di seluruh dunia."
Untuk mencapai target nol emisi karbon pada tahun 2060, pemerintah Indonesia mendesak masyarakat untuk beralih dari kendaraan berbahan bakar gas ke kendaraan listrik, yang juga akan memanfaatkan cadangan nikel yang kaya, yang merupakan bahan utama baterai kendaraan listrik.
Namun, kendaraan listrik masih menghadapi tantangan dalam hal pengisian ulang infrastruktur. Indonesia memiliki sekitar 1.400 stasiun pengisian daya, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan AS yang berjumlah 68.000 stasiun, dan jumlah tersebut sangat langka di luar wilayah perkotaan.
![Indonesia Pasar Terbesar Asean, Toyota Dorong Kendaraan Hibrida Untuk Jaga Posisi Juara]()
Dalam survei yang dilakukan di Indonesia oleh firma riset Milieu Insight yang berbasis di Singapura, 47% responden mengatakan "Harga tinggi" menghalangi mereka membeli kendaraan listrik, dan 42% menyebutkan "sedikit stasiun pengisian daya".
Mengingat hal ini, mobil hibrida tetap menarik bagi konsumen lokal. Menurut data grosir Gaikindo, penjualan mobil hybrid di dalam negeri meningkat 5,2 kali lipat menjadi sekitar 54,000 unit pada tahun 2023, sedangkan penjualan baterai EV tumbuh hampir 70% menjadi sekitar 17,000 unit.
Meskipun ada dorongan aktif terhadap mobil-mobil yang lebih bersih di pameran otomotif, industri otomotif diperkirakan akan menghadapi tahun yang penuh tantangan di masa depan. Gaikindo telah menetapkan target penjualan sebesar 1,1 juta unit pada tahun 2024, naik sekitar 10% dari tahun 2023, namun para analis memperingatkan dampak tingginya suku bunga terhadap kredit mobil.
“Penjualan di sisa tahun 2024 sepertinya tidak akan meningkat secara dramatis, mengingat kebijakan kenaikan suku bunga pada bulan April dan meningkatnya kemungkinan bahwa suku bunga pembiayaan mobil akan tetap tinggi tahun ini karena likuiditas pasar semakin ketat." Data lembaga pemeringkat Fitch yang disampaikan pada bulan Mei menyebutkan bahwa sekitar 80% konsumen Indonesia menggunakan pembiayaan saat membeli mobil. Badan tersebut memperkirakan penjualan mobil tahunan akan turun menjadi sekitar 900.000 pada tahun 2024.(*/saf/nikkei)
(lam)