LANGIT7.ID-, Jakarta- - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) telah mengungkapkan strategi komprehensif untuk menghadapi tantangan peningkatan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Direktur Utama BRI, Sunarso, memaparkan langkah-langkah konkret yang diambil bank pelat merah tersebut dalam merespons tren kenaikan NPL yang dilaporkan oleh Bank Indonesia.
Sunarso mengakui adanya peningkatan NPL di sektor UMKM, terutama pada segmen mikro dan kecil. Namun, ia menegaskan bahwa posisi BRI masih lebih baik dibandingkan rata-rata industri perbankan. "NPL UMKM diperbankan, artinya swasta dan BUMN itu memang kalau digabung, mungkin di level 4 persenan. Tapi sebenarnya NPL UMKM BRI kan di bawah itu, 3,05 persen," ungkap Sunarso dalam webinar, Kamis (25/7/2024).
Baca Juga:
BRI Siap Hadapi Kebijakan Restrukturisasi Kredit Pasca-CovidBRI Cetak Laba Bersih Rp29,9 Triliun di Tengah Tantangan EkonomiMeskipun demikian, BRI tidak berpuas diri dan telah menyiapkan serangkaian strategi untuk menjaga kualitas kredit di tengah tantangan ekonomi. Langkah pertama yang diambil BRI adalah menerapkan pertumbuhan selektif. BRI akan tetap fokus pada pertumbuhan di sektor UMKM, namun dengan pendekatan yang lebih selektif. Bank akan memperketat kriteria penerimaan risiko (risk acceptance criteria) dan pedoman portofolio pinjaman (loan portfolio guideline) untuk memastikan kualitas kredit yang disalurkan.
Selanjutnya, BRI akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap portofolio UMKM yang sudah ada. Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi nasabah yang masih memiliki prospek baik dan yang sedang menghadapi kesulitan. Langkah ini penting untuk menentukan tindakan yang tepat bagi setiap nasabah.
Untuk nasabah yang mengalami kesulitan, BRI akan menerapkan kebijakan restrukturisasi kredit. "Kalau memang akan diberikan kelonggaran, kita ikuti. Tapi kalau tidak ada kelonggaran, ya kita lakukan restrukturisasi sesuai dengan prinsip-prinsip restrukturisasi mengikuti ketentuan yang umum yang berlaku," jelas Sunarso.
Jika restrukturisasi tidak memungkinkan, BRI akan melakukan penghapusbukuan kredit (write-off). Sunarso menekankan bahwa BRI memiliki cadangan yang kuat, lebih dari dua kali lipat NPL, untuk mengantisipasi langkah ini. Hal ini menunjukkan kesiapan BRI dalam menghadapi skenario terburuk.
Sebagai langkah terakhir, BRI akan terus melakukan upaya penagihan terhadap kredit yang telah dihapusbuku, dengan fokus pada peningkatan tingkat pemulihan (recovery rate). Ini menunjukkan komitmen bank untuk memaksimalkan pemulihan aset, bahkan setelah kredit dihapusbuku.
Strategi yang diterapkan BRI ini menunjukkan komitmen bank tersebut dalam menjaga stabilitas keuangan sambil tetap mendukung sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Dengan pendekatan yang hati-hati dan terukur, BRI berupaya meminimalkan risiko kredit sambil tetap mempertahankan perannya sebagai mitra utama UMKM di Indonesia.
(lam)