LANGIT7.ID-, Jakarta- - Di tengah hiruk-pikuk sepakbola Indonesia, sosok Shin Tae-yong berdiri tegak bagai mercusuar yang menerangi jalan menuju kemajuan. Pria Korea Selatan ini bukan sekadar pelatih biasa; ia adalah seorang visioner yang memahami bahwa untuk mencapai puncak, kritik adalah tangga yang harus dipijak.
"Sepakbola Indonesia butuh orang-orang yang berani mengkritik," ujar Shin dalam obrolan santai dengan KBS World Indonesian, dikutip Minggu (18/8/2024).
Baca Juga:
Shin Tae-yong Terus Pantau Liga 1 Jelang Kualifikasi Piala Dunia 2026Pernyataan ini mungkin mengejutkan banyak pihak, terutama mengingat tajamnya komentar yang kerap dilontarkan pengamat sepakbola seperti Tommy Welly alias Bung Towel. Namun bagi Shin, suara-suara kritis ini justru menjadi bumbu penting dalam resep kesuksesan Tim Garuda.
Baca Juga:
Timnas Indonesia Tanpa Elkan, Strategi Brilian atau Keputusan Kontroversial?Tak bisa dipungkiri, era Shin Tae-yong telah membawa angin segar bagi persepakbolaan Tanah Air. Catatan prestasi timnas di bawah asuhannya bagaikan buku rekor yang terus diperbarui. Finis keempat di Piala Asia U-23 2024? Check. Tembus 16 besar Piala Asia 2023? Double check. Pencapaian-pencapaian ini bukan sekadar angka, tapi bukti nyata bahwa sepakbola Indonesia mampu bersaing di level Asia.
Namun, di balik gemerlap prestasi, Shin tetap manusia biasa. Ia mengaku kadang merasa kesal saat kritik datang bertubi-tubi. "Saya sudah bekerja keras, tapi masih ada yang mengatakan hal-hal yang kurang membangun," ungkapnya. Tapi alih-alih tenggelam dalam emosi, Shin memilih untuk menjadikan kritik sebagai bahan bakar motivasi.
Baca Juga:
Alternatif Penjaga Gawang: Yaell Samson, Calon Pengganti Maarten Paes untuk Timnas IndonesiaFilosofi Shin ini menarik untuk dicermati. Di era di mana banyak pelatih memilih untuk "menutup telinga" dari kritik, Shin justru membuka lebar-lebar pintu diskusi. Ia paham betul bahwa dukungan tanpa reserve bisa menjadi pisau bermata dua. "Jika saya mendapat dukungan 100 persen, saya sendiri bisa menjadi otoriter," tuturnya bijak.
Kini, Shin dan anak asuhnya tengah bersiap menghadapi tantangan terbesar: Kualifikasi Piala Dunia 2026. Laga tandang ke markas Arab Saudi (6 September) dan menjamu Australia di SUGBK (10 September) akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Timnas Indonesia. Dua raksasa Asia ini tentu bukan lawan sembarangan, tapi dengan mentalitas yang telah ditempa Shin, Evan Dimas dan kawan-kawan siap memberikan kejutan.
Shin Tae-yong telah membuktikan diri sebagai lebih dari sekadar pelatih. Ia adalah seorang filsuf lapangan hijau, yang memahami bahwa untuk membangun tim juara, dibutuhkan lebih dari sekadar taktik dan strategi. Diperlukan pula kearifan untuk menyikapi kritik dan menjadikannya sebagai batu loncatan menuju kesuksesan.
Perjalanan Timnas Indonesia masih panjang, tapi dengan Shin Tae-yong di kemudi, masa depan cerah sudah di depan mata. Satu hal yang pasti: sepakbola Indonesia kini memiliki sosok pemimpin yang tidak hanya berani bermimpi besar, tapi juga cukup bijak untuk mendengar dan belajar dari berbagai suara di sekelilingnya. Dan mungkin, inilah kunci yang selama ini hilang dalam upaya membangun sepakbola Indonesia kelas dunia.
(lam)