LANGIT7.ID-, Jakarta- - Modest fashion mulai meramaikan dunia mode Tanah Air dalam 10 tahun terakhir ini. Sejumlah desainer busana Muslim pun mulai bermunculan, mulai dari Itang Yunasz, Dian Pelangi, hingga Ria Miranda.
Berdasarkan laporan terbaru dari Global Islamic Economy Indicator Score, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan industri modest fashion terbaik.
Fakta ini membuktikan bahwa konsumsi fashion muslim terus berkembang seiring dengan peningkatan kesadaran publik pada gaya hidup Islami yang modern.
Selain itu, hal tersebut juga menunjukkan potensi Indonesia untuk masuk ke pasar global.
Baca juga:
Bukan Atta Halilintar, Youtuber dengan Konten Sederhana Ini Berpenghasilan Rp183 MiliarMenteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki, di acara Jakarta 1st Modest Fashion Month (Mofam), mengungkap empat langkah dan persiapa yang harus dilakukan untuk modest fashion Indonesia mendunia.
"Pertama, harus menyiapkan ekosistem industri modest fashion dalam negeri yang sekarang belum mengarah ke industrialisasi," kata Teten Masduki di Lapangan Banteng, Jakarta, Ahad (13/10/2024) malam.
Teten mengaku sudah sejak lama melihat modest fashion adalah salah satu keunggulan domestik indonesia. Modest fashion punya basis kultural yang kuat, juga punya potensi menjadi industri berkelanjutan.
"Karena, kita kaya dengan sumber serat alam yang sebagian sudah kita olah, sebagian besar belum," kata Teten Masduki dalam keterangannya, dikutip Senin (14/10/2024).
Bahkan, Teten menyebut Indonesia juga memiliki market besar di dalam negeri.
"Kita bisa melirik market besar dari masyarakat Muslim. Kita melihat potensi market demand kita, produk lifestyle yang sangat dinamis," tambahnya.
Strategi kedua, lanjut Teten, Indonesia harus melakukan Research and Development yang melibatkan desainer, hingga industri tekstil.
"Kita harus terus mengembangkan bahan baku menyesuaikan perubahan market. Ini belum tertata dengan baik," urainya.
Ketiga, harus menyiapkan segala sesuatu untuk mendukung upaya masuk dalam rantai pasok industri.
"Ini harus disiapkan terlebih dahulu. Kita harus menyiapkan brand lokal agar bisa bersaing dengan brand asing, baik di dalam maupun luar negeri," ujar Teten.
Namun, kata Teten mengingatkan, hal ini tak cukup dengan hanya memiliki potensi besar, tapi belum bisa mengelola dan mengoptimalkannya.
"Contoh, masyarakat di Timur Tengah masih memakai modest fashion hitam putih. Kita bisa mengubah mereka lebih berwarna," tambah Teten.
Keempat, harus mampu menyiapkan strategi marketing yang efektif.
"Sekarang ini, terlalu banyak yang membuat fashion show, sehingga terlihat tidak ada strategi terintegrasi," ujarnya.
Teten mengarahkan, bila membuat sebuah acara, misalnya Jakarta Modest Fashion Week, maka harus disepakati semua pihak.
"Bukan hanya kecil-kecilan, melainkan harus membidik buyer hingga B2B. Jadi, kita harus bisa menghitung marketnya," tekannya.
MOFAM menghadirkan 14 desainer muda potensial yang menampilkan karya-karya terbaik mereka dengan tema street wear and ready to wear.
Acara ini juga menampilkan showcase 30 UKM ekosistem pendukung modest fashion, yang terdiri dari produk-produk pendukung fashion seperti tas, footwear, aksesoris, dan personal care.
Selain itu, juga menyediakan 20 food truck untuk pengunjung acara yang jumlahnya estimasikan akan mencapai 5.000 orang selama acara berlangsung.
(ori)