LANGIT7-Jakarta,- - Usai kematian Liam Payne (31), mantan personel boyband One Directions akibat jatuh dari lantai 3 di sebuah hotel di Argentina, menimbulkan perdebatan di kalangan tokoh-tokoh industri musik. Mereka berdebat mengenai adanya larangan anak remaja berkarier di boyband.
Menjadi sebuah pukulan berat ketika mengetahui musisi muda meninggal dunia karena hal yang tidak wajar, apalagi ada pengaruhnya dengan depresi maupun kesehatan mental akibat ketenaran mereka.
Payne mengalami ketenaran luar biasa sejak usia muda yaitu 16 tahun lewat boyband yang dibentuk pada kompetisi TV Inggris, The X Factor pad 2010. Hal ini berdampak buruk pada kesehatan mentalnya, serta menjadi salah satu alasan Ia menggunakan minuman keras dan narkoba dalam upaya untuk mengobati dirinya sendiri.
Baca juga:
Lompat dari Balkon Hotel, Liam Payne Eks One Direction Diduga Sedang MabukDalam sebuah wawancara dengan Esquire Middle East pada 2019, Payne menjelaskan tekanan yang dialaminya karena terus-menerus menjadi sasaran pengawasan publik global: “Yang paling sulit adalah secara mental. Anda harus bersiap-siap dan selalu tahu bahwa Anda mungkin akan difoto. Ada hari-hari di mana saya tidak ingin meninggalkan rumah. Bahkan jika itu hanya untuk pergi ke toko, saya akan berkeringat karena saya tidak tahu apakah saya melakukan hal yang benar atau tidak.” Ia menambahkan: “Sayangnya, hal itu terjadi pada semua orang di industri ini (hiburan).”
Penulis lagu Inggris Guy Chambers melihat kesamaan antara kisah Payne dan kisah mantan rekan musiknya, Robbie Williams, yang bergabung dengan boyband Take That pada usia 16 tahun pada 1990.
Williams menderita “panic attack” dimana begitu mengganggu sejak awal kariernya, serta menyebabkan masalah kecanduan.
Dalam sebuah wawancara dengan DJ Scott Mills pada 2022, Williams mengatakan tentang masa itu: “[Saya] sedang mengerjakan ujian GCSE (ujian sekolah, red) yang gagal saya selesaikan. Lalu saya tiba-tiba berada di Jepang dan memiliki 3.000 penggemar di luar dan kemudian hal itu terjadi di mana pun kami pergi. Itu tidak aman dan tidak nyata dan itu bercampur dengan apa yang saya konsumsi untuk mengatasi hidup saya, dan cara tubuh dan pikiran saya bereaksi terhadapnya, tidak berjalan dengan baik.”
Beberapa hari setelah kematian Payne, dalam sebuah wawancara dengan The Observer, Chambers menyarankan agar anak di bawah 18 tahun dilarang menjadi bintang pop.
“Saya pikir menempatkan anak berusia 16 tahun di dunia orang dewasa seperti itu berpotensi sangat merusak. Saya tahu dalam kasus Robbie dengan Take That, tidak ada perlindungan yang tepat untuk menjaga anak laki-laki remaja. Itu sudah lama sekali, tetapi saya tidak melihat banyak tanda perubahan,” ujar Chambers.
Menurutnya, sejauh yang Ia amati, tidak banyak perhatian yang diberikan dari orang-orang yang terlibat dalam acara pencarian bakat televisi besar.
“Saya sarankan agar orang-orang tidak bergabung dengan boyband sebelum mereka berusia 18 tahun, dan industri harus mematuhinya juga,” tegasnya, melansir bbc.com, Senin (28/10/2024).
Menghentikan anak di bawah 18 tahun memasuki industri musik tentu saja merupakan salah satu tindakan pencegahan, tetapi apakah ide Chambers untuk menjauhkan remaja dari dunia pop benar-benar berhasil dalam praktiknya? Chris Herbert, mantan manajer musik pop dan kreator Spice Girls, meragukannya.
“Sejujurnya saya tidak dapat melihat bagaimana Anda akan menerapkan ambang batas usia minimum untuk bekerja di industri hiburan,” katanya kepada BBC.
“Industri ini memiliki sejarah yang sangat panjang dalam menghasilkan bintang-bintang sukses dari segala usia, dan akan selalu ada pasar muda yang menginginkan artis yang dapat diterima.”
Herbert justru menyarankan hal lain daripada mengerahkan upaya untuk menghentikan, seperti saran Chambers.
“Jawabannya harus terletak pada penciptaan pendidikan dan dukungan yang tepat bagi para artis muda, serta menjadikan industri ini tempat yang lebih transparan. Para artis muda dan wali mereka perlu diberi informasi lengkap dan menyadari risiko, serta imbalan, yang menyertai ketenaran dan industri perlu memberikan dukungan struktural yang tepat bagi para artis, termasuk pendamping terlatih, konselor, jam kerja yang ramah, waktu istirahat makan, dan waktu istirahat yang teratur,” papar Herbert.
Di Inggris, anak-anak sekolah hingga usia 16 tahun dilindungi oleh undang-undang Lisensi Pertunjukan Anak, yang mengatur bahwa anak-anak yang tampil di depan umum atau di TV harus mengajukan lisensi untuk tampil dari otoritas setempat untuk memastikan “kesehatan, kesejahteraan, dan perlakuan baik”S mereka dalam industri hiburan
(ori)