LANGIT7.ID-Jakarta; Tragedi tsunami Samudra Hindia 2004 yang meluluhlantakkan 14 negara menjadi titik balik penguatan hubungan bilateral Indonesia-Jepang. Bencana yang menewaskan lebih dari 227 ribu jiwa, menghilangkan 45 ribu orang, dan melukai puluhan ribu lainnya ini membuka mata dunia akan pentingnya sistem mitigasi bencana yang handal.
Pengalaman luas Jepang dalam menangani berbagai bencana alam menjadikan negara ini mitra strategis Indonesia. Kedua negara kemudian membangun fondasi kerja sama yang kuat, ditandai dengan kolaborasi dalam penanggulangan bencana gunung berapi.
Baca juga: Kerja Sama Indonesia-Jepang Makin Erat, PM Ishiba: Transformasi Ekonomi RI MengesankanPertemuan bilateral di Istana Kepresidenan Bogor menandai babak baru kerja sama kedua negara. Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Shigeru Ishiba membahas sejumlah terobosan untuk memperkuat ketahanan menghadapi bencana.
Pertemuan Bilateral Hasilkan Terobosan Strategis"Kini telah 20 tahun berlalu sejak terjadinya gempa bumi dan tsunami di pesisir Sumatera utara yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan dampak yang sangat besar," tutur Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba di Istana Bogor Jawa Barat, Sabtu (11/1/2025).
Di sela-sela kunjungan kenegaraannya, pemimpin Jepang ini menyampaikan duka mendalam atas tragedi yang mengguncang kawasan Asia Tenggara tersebut. Sebagai negara yang kerap dilanda bencana, Jepang berkomitmen membagikan pengalaman dan keahliannya dalam manajemen bencana.
Kerja sama penanggulangan bencana gunung berapi yang telah terjalin menjadi model untuk pengembangan kolaborasi di bidang mitigasi bencana lainnya. Lebih jauh, kedua negara sepakat memperluas cakupan kerja sama melalui program pertukaran sumber daya manusia.
"Hubungan antara kedua negara yaitu Indonesia dan Jepang didasari oleh hubungan antara manusia dan manusia. Oleh karena itu kami telah sepakat untuk meningkatkan pertukaran SDM ke depannya," ujar dia.
Thailand, Malaysia, dan Myanmar turut merasakan dampak dahsyat tsunami 2004. Bencana yang merambah hingga ke Asia Selatan ini menjadi katalisator penguatan kerja sama internasional dalam menghadapi ancaman bencana alam.
(lam)