LANGIT7.ID-Jakarta; Rencana penambahan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp140 triliun pada 2025 memunculkan inovasi baru dalam skema pendanaannya. Nahdlatul Ulama (NU) memberikan solusi melalui pemanfaatan dana sosial keagamaan.
Dana infak dan sedekah menjadi opsi utama yang ditawarkan NU untuk mendukung program pemerintah ini. Skema ini dinilai lebih tepat karena tidak terikat aturan ketat seperti zakat.
"Menurut saya untuk zakat ini perlu kajian lebih rinci. Karena zakat harus diterima oleh kelompok-kelompok yang spesifik dalam wacana fikih sebagai penerima yang diperbolehkan, tidak semua orang bisa menerima," kata Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf di Jakarta, Senin (13/1/2025).
Pernyataan ini menanggapi usulan Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin yang mendorong penggunaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) untuk program MBG. Namun NU melihat ada tantangan dalam penggunaan dana zakat.
Skema pendanaan melalui zakat memerlukan kajian mendalam karena terikat aturan syariah yang ketat. Dana zakat hanya bisa disalurkan kepada delapan kelompok penerima (Asnaf) yang telah ditentukan dalam hukum Islam.
"Kalau dikhususkan untuk anak-anak miskin bisa. Tapi kalau umum untuk semua orang, untuk zakat memang harus lebih hati-hati," ujar dia.
Saat ini, anggaran MBG yang telah disetujui DPR RI untuk tahun 2025 adalah Rp71 triliun. Program ini akan berjalan bertahap mulai Januari 2025 dengan target 3 juta penerima manfaat. Jumlah ini akan meningkat menjadi 6 juta pada April-Agustus.
"Jika nanti Presiden memutuskan untuk menambah anggaran Rp140 triliun di Juli atau Agustus, maka penerima manfaat akan mencapai 82,9 juta pelajar yang mendapat makan siang bergizi," kata Menko Pangan Zulkifli Hasan.
Untuk periode Agustus hingga Desember 2025, jumlah penerima manfaat dari anggaran yang sudah disetujui sebesar Rp71 triliun ditargetkan mencapai 15 hingga 17,5 juta pelajar. Pemerintah terus mengkaji berbagai opsi pendanaan untuk memperluas jangkauan program ini.
(lam)