LANGIT7.ID-Jakarta; Indonesia ternyata membutuhkan pasokan gula yang sangat besar. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi mengungkapkan bahwa kebutuhan gula masyarakat Indonesia mencapai 250 ribu ton setiap bulannya. Angka ini terungkap saat ia menjelaskan tentang rencana impor gula kristal mentah (GKM) sebanyak 200 ribu ton.
"Rencana impor 200 ribu ton ini sebenarnya tidak akan cukup bahkan untuk tiga minggu, karena kebutuhan kita itu 250 ribu ton per bulan," jelas Arief dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) bersama Menteri Pertanian di Jakarta, dikutip Selasa (18/2/2025).
Melihat besarnya kebutuhan tersebut, Bapanas memastikan telah memiliki cadangan gula nasional yang aman, yakni sekitar 4,5 juta ton. Jumlah ini diprediksi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama lima bulan ke depan, sambil menunggu masa panen tebu dalam negeri.
Untuk mengamankan pasokan gula menjelang Puasa dan Lebaran 2025, pemerintah mengambil dua langkah strategis. Pertama, melakukan impor GKM yang akan diolah menjadi gula konsumsi. Kedua, menyerap hasil panen tebu petani lokal yang diperkirakan mulai April hingga Mei 2025.
Meski ada rencana impor, Arief menegaskan bahwa pemerintah tetap akan melindungi petani tebu dalam negeri. Bapanas telah menetapkan harga acuan penjualan (HAP) gula di tingkat petani sebesar Rp14.500 per kilogram, sementara di tingkat pabrik gula mencapai Rp15.700 per kilogram.
Proses impor GKM sendiri akan dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan seperti ID FOOD, Perum Bulog, atau PT Perkebunan Nusantara (PTPN). "Setelah risalah selesai, kami akan meminta BUMN terkait untuk melakukan bidding berdasarkan penugasan dari Menteri BUMN," ungkap Arief.
Lebih lanjut, Arief menjelaskan bahwa stok gula yang ada saat ini perlu dikeluarkan dari gudang karena adanya kenaikan harga di beberapa daerah. Setelah stok tersebut keluar, gudang akan kembali diisi dengan gula hasil panen dalam negeri yang akan dimulai pada April mendatang.
"Yang terpenting, harga gula dan tebu petani tidak boleh turun karena kita sudah sepakat pada harga tersebut. Panen tebu akan tetap diserap pada April dan Mei," pungkas Arief.
(lam)