LANGIT7.ID-Jakarta; Kolaborasi Indonesia dan Jepang dalam Asia Zero Emission Community (AZEC) semakin menunjukkan arah yang jelas. Setidaknya ada 9 proyek strategis yang telah dipetakan dan dikategorikan berdasarkan tingkat kesiapan implementasinya, sesuai hasil Expert Group Meeting kedua negara.
PLTP Muara Laboh di Sumatera Barat menjadi salah satu proyek yang masuk kategori I atau proyek komersial yang siap dilaksanakan. Bersama dengan PLTSa Legok Nangka dan pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF), ketiga proyek ini diprioritaskan untuk segera direalisasikan mengingat studi kelayakannya telah rampung.
Sementara itu, mega proyek PLTA Kayan, pengelolaan lahan gambut, dan pembangunan jaringan transmisi Jawa-Sumatera masuk dalam kategori II. Ketiga proyek ini dinilai memiliki potensi komersial yang menjanjikan, meski masih membutuhkan kajian lebih lanjut sebelum dapat diimplementasikan.
Tidak ketinggalan, Indonesia dan Jepang juga menyiapkan sejumlah proyek inovatif dalam kategori III yang masih dalam tahap pilot project. Proyek-proyek tersebut mencakup pengembangan teknologi baru untuk tenaga panas bumi, produksi amonia hijau, pengembangan hidrogen untuk transportasi, serta produksi Biofuel/Bio-Avtur.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pertemuan dengan Chairman JBIC Tadashi Maeda dan Ambassador AZEC Takio Yamada di Jakarta, Jumat (21/2), menegaskan komitmen Indonesia untuk mengakselerasi proyek-proyek tersebut. "Kita akan upayakan agar proyek-proyek pada kategori III dan II untuk ditingkatkan menjadi kategori I sehingga dapat segera terlihat manfaatnya bagi perekonomian," ujarnya.
Sejalan dengan target percepatan proyek, Chairman JBIC Tadashi Maeda memaparkan progres kerja sama JBIC di Indonesia, khususnya dalam pengembangan transmisi Jawa Sumatera bersama PLN. Maeda juga menyampaikan rencana strategis Jepang untuk memenuhi kebutuhan energi baru terbarukan hingga 2040.
Kolaborasi Indonesia-Jepang dalam AZEC juga mendapat dukungan kuat dari kedua kepala negara. Menurut Menko Airlangga, inisiatif AZEC menjadi salah satu highlight dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Ishiba Shigeru pada Januari lalu.
Sebagai tindak lanjut pertemuan tingkat tinggi tersebut, Ambassador AZEC Takio Yamada menekankan pentingnya pertemuan Ministerial Meeting untuk mendorong realisasi proyek kerja sama AZEC. Merespons hal ini, Menko Airlangga menawarkan peluang kerja sama tambahan seperti pengembangan PLTS di Riau, transmisi ASEAN Powergrid, serta pengembangan energi dari kelapa sawit untuk bahan bakar penerbangan.
"Indonesia berharap untuk terus ada peningkatan dan pengembangan dalam proyek-proyek AZEC, salah satunya proyek PLTSa Legok Nangka yang dapat dijadikan sebagai proyek percontohan," ungkap Menko Airlangga. Untuk mempercepat implementasi proyek, pemerintah Indonesia berkomitmen memfasilitasi proses debottlenecking guna mengatasi berbagai tantangan yang muncul dalam pengembangan proyek.
Pertemuan yang dihadiri Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Prio Pambudi serta Staf Khusus Menko Perekonomian Raden Pardede dan Reza Yamora Siregar ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kerja sama Indonesia-Jepang menuju target net-zero emission.
(lam)