LANGIT7.ID-, Jakarta - - Jenama mode
Glashka menerapkan konsep
sustainable atau keberlanjutan dengan caranya tersendiri, yaitu dengan menyulap bahan sisa produksi menjadi item fesyen yang cantik, unik dan menarik.
Glashka yang berdiri sejak 2018, diawali dengan produksi hijab kemudian merambah ke busana pada tahun 2020 amat memperhatikan konsep sustainable. Ega Augustia sang pemilik brand tak ingin material sisa produksi hanya menjadi sampah, namun sebaliknya harus bisa memiliki nilai ekonomi.
![Usung Konsep Sustainable, Glashka Sulap Bahan Sisa Jadi Sepatu & Tas Unik]()
Ega Augustia, founder sekaligus owner jenama mode Glashka. Foto: Lusi M.
"Saya dan tim membuat sepatu dan tas-tas yang kita olah dan kita tambahin bordir supaya lebih menarik dan tentunya memberi nilai ekonomi," ungkap Ega saat diwawancara Langit7 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (20/2).
Disamping itu, Ega menambahkan bahwa harga material atau bahan yang ia gunakan untuk memproduksi setiap desain tidaklah murah. Sebab itu, memanfaatkan kembali bahan sisa merupakan sebuah langkah pintar.
Baca juga: The Marmara Series dari Pelangi Asmara, Harmoni Warisan Budaya & Tren Masa KiniBerdayakan Pengrajin LokalGlashka telah memasuki tahun kelima berkarya menciptakan busana
modest wear. Sejak awal jenama ini selalu menampilkan bordir di tiap item fesyen miliknya.
Ega menegaskan,
signature milik Glashka yakni bordir berbentuk bunga tiga kelopak. Jadi tiap koleksi pasti mencantumkan bentuk bunga tersebut.
"Walaupun bentuk bunga dibedakan, guratan dibedakan tapi selalu bentuk bunga 3 kelopak. Tiap koleksi bisa sampai 98 persen ada bordir bunga tiga kelopak," tutur desainer kelahiran Jakarta, 22 Agustus itu.
![Usung Konsep Sustainable, Glashka Sulap Bahan Sisa Jadi Sepatu & Tas Unik]()
Uniknya, Ega memilih bordir dengan cara manual dan hal itu masih terjaga hingga kini. Ia memilih pengrajin lokal dari Tasikmalaya untuk mengerjakan bordir pada rancangan mode miliknya.
Baca juga: Hangat Hati, Koleksi Ramadan-Idul Fitri dari Glashka dengan Keindahan Bordir OtentikSaat ditanya alasan memilih bordir manual dibanding dengan mesin yang tentu lebih cepat pengerjaannya, Ega punya jawaban tersendiri.
"Saya pilih pengrajin karena saya suka hubungan antar personal. Ketika bekerja dengan manusia itu beda, saya
amazed dengan kisah hidupnya, malah jadi inspirasi buat saya, yang bikin saya addict sama border manual," jelasnya.
Keutamaan lain dari bordir manual, lanjutnya, adalah guratan manual tidak mudah ditiru dan begitu otentik karena tebal dan tipis dari guratan bordir manual amat khas serta berbeda dengan hasil bordir mesin.
Koleksi fesyen Glashka bisa ditemui di Glashka Studio (Rumah Ayu), Jalan Cikajang no 16, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
(lsi)