LANGIT7.ID-Jakarta; Bezalel Smotrich, Menteri Keuangan Israel dari kubu sayap kanan, mengungkapkan pada Minggu lalu bahwa rencana Presiden Donald Trump untuk memindahkan warga Palestina dari Gaza yang porak-poranda "sudah mulai berjalan", meski banyak pemerintah di kawasan Timur Tengah menolaknya mentah-mentah.
"Rencana ini sedang dijalankan, dengan koordinasi terus-menerus bersama pemerintah AS," kata Smotrich dalam acara di parlemen Israel, sambil menambahkan bahwa persiapan sedang dilakukan untuk membentuk tim khusus yang akan mengawasi pemindahan penduduk.
"Ini bisa menciptakan perubahan sejarah di Timur Tengah dan bagi Israel," ujar Smotrich, yang terus-menerus mendukung lanjutnya perang melawan Hamas dan membangun kembali kehadiran tetap Israel di Gaza.
Rencana usulan Trump ini akan membutuhkan negara-negara yang mau menampung setidaknya sebagian dari 2,4 juta penduduk Gaza, jelas Smotrich.
"Kita perlu mencari negara-negara utama, memahami kepentingan mereka – baik dengan AS maupun dengan kita – dan membangun kerjasama," ucapnya.
Pelaksanaan rencana tersebut, yang didukung pemimpin Israel lainnya tapi dikecam keras oleh Palestina, pemerintah Arab, dan beberapa pemimpin dunia, bakal menjadi operasi logistik raksasa, kata Smotrich.
"Biar gampang membayangkannya – kalau kita memindahkan 10.000 orang per hari, tujuh hari seminggu, itu butuh waktu enam bulan," jelasnya.
"Kalau kita pindahkan 5.000 orang per hari, itu bakal makan waktu satu tahun. Tentu saja, ini dengan asumsi ada negara yang mau menerima mereka, tapi ini prosesnya sangat, sangat, sangat panjang."
Para ahli menegaskan bahwa pemindahan paksa warga Gaza merupakan pelanggaran hukum internasional.
Baru beberapa hari setelah dilantik, Trump bikin geger dunia ketika mengusulkan AS mengambil alih Gaza dan mengubahnya menjadi "Riviera Timur Tengah," sambil memaksa penduduk Palestina pindah ke negara tetangga yaitu Mesir dan Yordania.
Minggu lalu, usulan tandingan dari negara-negara Arab diajukan, dengan dukungan dari beberapa negara Islam dan pemerintah Eropa.
Proposal Arab ini bertujuan membangun kembali Gaza tanpa memindahkan penduduknya, yang sudah merasakan perang dahsyat lebih dari 15 bulan sebelum gencatan senjata rapuh mulai berlaku pada 19 Januari.
Steve Witkoff, utusan Trump untuk Timur Tengah, mengatakan rencana Arab adalah "langkah awal yang bagus dari Mesir," meski pejabat Israel dan AS lainnya keberatan.
Smotrich bilang dia mendorong agar rencana Trump terwujud, menyebutnya sebagai "kesempatan untuk mengakhiri konflik" antara Israel dan Palestina.
Sejak berdirinya Israel tahun 1948 dan "sampai sekarang, kami sudah menyeret masalah ini selama 76 tahun, mencari solusi... Dengan pemerintahan (AS) saat ini, kami akan berbuat lebih banyak."
(lam)