LANGIT7.ID-Taman Safari Indonesia (TSI) dikenal sebagai salah satu destinasi wisata edukatif dan hiburan keluarga yang menyatukan satwa dan manusia dalam interaksi unik.
Namun, nama besar ini kini tengah menjadi perhatian publik usai munculnya dugaan eksploitasi dan pelecehan terhadap mantan pemain sirkus yang pernah terlibat dalam pertunjukan di bawah naungan mereka.
Di balik kontroversi tersebut, berikut 5 fakta unik tentang Taman Safari Indonesia:
1 Konsep Drive-Thru Pertama di IndonesiaTaman Safari Cisarua, Bogor, merupakan kebun binatang pertama di Indonesia yang mengusung konsep “drive-thru”, di mana pengunjung bisa menyusuri habitat satwa liar langsung dari dalam mobil. Pengunjung bisa melihat dari dekat zebra, jerapah, harimau, dan hewan lainnya tanpa sekat kandang seperti kebun binatang konvensional.
2. Memiliki Cabang di Berbagai Wilayah IndonesiaSelain di Bogor, TSI mengembangkan cabangnya di berbagai wilayah:
-Taman Safari Prigen (Jawa Timur)
-Bali Safari & Marine Park
-Batang Dolphin Center (Jawa Tengah)
-Jakarta Aquarium & Safari
-Safari Solo
-Safari Beach Jateng
Ini menjadikannya jaringan konservasi dan rekreasi satwa terbesar di Indonesia.
3. Pernah Menampilkan Pertunjukan Sirkus Manusia dan SatwaSalah satu daya tarik TSI dulu adalah pertunjukan sirkus satwa dan manusia, yang menggabungkan aksi hewan terlatih dengan aksi manusia seperti akrobat, juggling, dan atraksi lainnya.
Namun, sejak 2020, atraksi sirkus satwa resmi ditiadakan sebagai bagian dari kampanye kesejahteraan hewan, meski belakangan muncul dugaan eksploitasi manusia dalam pertunjukan sirkus, yang kini menjadi polemik besar.
4. Disorot Karena Dugaan Eksploitasi Pemain SirkusDalam beberapa hari terakhir, TSI menjadi sorotan publik setelah muncul laporan dari mantan pemain sirkus Oriental Circus Indonesia (OCI), yang menyebut mereka mengalami kekerasan, kerja paksa, bahkan pelecehan.
Meskipun pihak TSI membantah keterlibatan langsung, dugaan hubungan historis antara sirkus dan operasional TSI menuai kecaman luas dan seruan boikot di media sosial.
5. Mengklaim Sebagai Pusat Konservasi Satwa TerbaikTSI mengklaim sebagai lembaga konservasi yang terlibat aktif dalam penangkaran dan reintroduksi satwa langka, seperti harimau sumatera, komodo, dan burung jalak bali.
Beberapa di antaranya telah berhasil dilepasliarkan kembali ke alam. Namun kini reputasi tersebut diuji dengan munculnya isu pelanggaran HAM terhadap manusia di balik layar.
Meski dikenal sebagai ikon wisata keluarga dan konservasi satwa, Taman Safari Indonesia kini menghadapi tuntutan moral dan hukum. Publik tidak hanya menuntut perlakuan layak bagi hewan, tetapi juga bagi manusia yang terlibat di dalam sistemnya.
Apakah kasus ini akan mengubah cara kita memandang dunia hiburan berbasis satwa dan manusia? Waktu yang akan menjawab.(*)
(hbd)