Langit7, Jakarta - Kopi merupakan salah satu subsektor pertanian dengan komoditi hasil perkebunan yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia.
Kopi juga menjadi salah satu komoditas ekspor Indonesia yang berperan penting sebagai penghasil devisa negara selain minyak dan gas.
Selain peluang ekspor yang semakin terbuka, pasar kopi di dalam negeri masih cukup besar. Apalagi, di tengah pandemi Covid-19, produksi kopi nasional tetap bertahan dan tidak terpengaruh.
Baca juga: Restoran Boksa Bakso Madiun Masuk Nominasi Penghargaan KemenkesDemikian dengan permintaan kopi yang terus meningkat, baik dalam dan luar negeri. Dengan meningkatnya permintaan akan komoditas kopi, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Ditjenbun Kementan) terus meningkatkan produksi kopi nasional.
“Setiap tahunnya kita terus meningkatkan produksi kopi,” kata Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjenbun Kementan, Heru Tri Widarto, dikutip dari keterangan resminya, Jumat (1/10).
Dikutip dari laman resmi Kementan, produksi kopi pada 2020 lalu mencapai 753.941 ton. Sementara untuk tahun ini, Kementan memperkirakan adanya kenaikan hingga mencapai 765.415 ton.
Untuk itu, Heru mengaku akan melakukan pengembangan di subsektor perkebunan kopi. Dengan melalui perluasan kopi arabika di 12 provinsi yang tersebar di 22 kabupaten seluas 2.590 hektar. Rehabilitasi kopi robusta di satu provinsi dan satu kabupaten seluas 100 hektar.
Selain itu, peremajaan kopi robusta di lima provinsi yang tersebar di lima kabupaten seluas 800 hektar. Serta peremajaan kopi arabika di enam provinsi yang tersebar 14 kabupaten seluas 1.670 hektar.
"Jadi, total pengembangan kopi nasional mencapai 5.160 hektar,” jelas Heru.
Baca juga: Ini Persiapan Indonesia Sambut Expo 2020 DubaiPihaknya juga mengaku akan terus mendorong komoditas kopi dari hulu hingga hilir. Dari sisi hulu, pihaknya melakukan perluasan, peremajaan dan rehabilitasi dengan bantuan berupa benih unggul bersertifikat, serta pupuk organik.
Sementara untuk hilirnya, ia bakal memberikan fasilitasi berupa sarana dan prasarana seperti bangunan dan mesin pengupas biji, pencuci biji, pengering pengupas dan mesin sortasi melalui sosialisasi, pelatihan dan pendampingan.
Dari catatan Ditjenbun Kementan selama 13 tahun terakhir sejak 2008-2020, volume ekspor mengalami kenaikan dengan laju pertumbuhan rata-rata 4,50 persen per tahun. Sedangkan untuk laju pertumbuhan 10 tahun terakhir 2,01 persen.
Rata-rata laju volume impor kopi 44,35 persen. Volume impor ini turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai angka 100,64 persen per tahun.
Laju pertumbuhan nilai ekspor kopi selama 2008-2020 pun dikatakan Heru mengalami penurunan 0,03 persen, dibandingkan nilai impor kopi yang meningkat 33,87 persen.
Walaupun begitu, Kementan mencatat konsumsi kopi Indonesia pada 2019 meningkat sebesar 1,15 kg per kapita dengan laju pertumbuhan konsumsi kopi sebesar 1,7 persen per tahun. Sementara pada tahun 2020, konsumsi kopi domestik mencapai 294.000 ton.
"Naik 13,9 persen dibandingkan tahun 2019 sebesar 258.000 ton," kata dia beberapa waktu lalu.
Untuk itu, pihaknya akan berkomitmen untuk terus meningkatkan produksi kopi. Terlebih saat ini komoditas kopi, baik dalam dan luar negeri terus meningkat walapun di tengah pandemi.
(zul)