LANGIT7.ID-Di usianya sudah 70 tahun, Mbah Sumaerah adalah cerita warga Pantai Utara Jawa yang akrab dengan rob.
Sumaerah adalah satu dari warga Dukuh Pandansari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, yang wilayahnya kini terkena rob parah.
"Saya tinggal di sini sejak umur 15 tahun. Dulu saat saya remaja, robnya tidak setinggi ini. Sekarang parah banget,” ungkap Mbah Sumaerah.
Sudah 55 tahun lebih Sumaerah tinggal di wilayah tersebut dan kehidupannya sekarang sangat memprihatinkan.
Bersama anaknya, Unawanah (35) dan menantu, Syukron Akbar (37), serta dua cucu, Narulita Noverona (8) dan Yunia Amalia (5), mereka tinggal di dalam rumah papan yang sudah tergenang air rob, bahkan air menggenang setinggi perut orang dewasa.
Dari luar, sepintas seperti rumah apung. Namun, kalau melongok ke dalam, kondisinya sudah sangat tidak layak untuk ditempati.
Untuk masuk ke dalam rumah, orang harus membungkukkan badan. Perlu tambahan rangkaian bambu dan papan, sebagai jembatan untuk jalan masuknya. Kalau kurang hati-hati, bisa terpeleset dan tercebur. Tak banyak perabot laiknya rumah pada umumnya.
“Setiap hari ya begini. Sudah puluhan tahun saya menjalani hidup di sini. Tidur, makan, mandi ya di dalam. Hidupnya di atas air rob,” ungkap nenek yang menderita sakit punggung dan mata tersebut, dikutip dari jatengprov.go.id.
Suaminya, Musa, meninggal tujuh tahun lalu. Mbah Sumaerah menggantungkan hidup pada anak dan menantunya yang bekerja sebagai buruh.
Ketika ditanya kenapa tidak mau pindah, ia menjawab lirih.
“Mau pindah ke mana? Saya tidak punya uang sama sekali. Minta bantuan juga tidak ada yang memberi,” ungkapnya.
Mbah Sumaerah hanya bisa pasrah. Dia berharap pemerintah memberi perhatian dan bantuan. Tak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk nasib dua cucu kesayangan.
Soal tawaran relokasi, Mbah Sumaerah tak buru-buru menerima. Dia khawatir jika ditarik biaya, meski diberitahu kalau gratis. Diberikan lahan dan dibangunkan rumah secara cuma-cuma.
"Sementara di sini dulu saja. Kalau pindah nanti bayar pakai apa tanah dan bangun rumahnya? Untuk makan tiap hari saja susah, seadanya,” katanya.
Banyak warga yang tinggal di pesisir pantai Utara Pulau Jawa, berharap besar terhadap program giant sea wall (tanggul laut) yang saat ini sedang dikebut pengerjaannya oleh pemerintah pusat.
Keberadaan tanggul laut menjadi satu-satunya solusi penanganan dampak dari bencana rob di pesisir utara pulau Jawa.
Salah satu tokoh masyarakat Dukuh Pandansari, Zamroni (50), mengatakan, warga sangat berharap proyek tanggul laut yang saat ini sedang dikerjakan, bisa segera terealisasi.
“Warga ingin sekali bencana rob ini sesegera mungkin teratasi, dan bisa terselesaikan. Masyarakat sini kalau ditanya tentang rob, mungkin sudah tidak bisa merasakan lagi apa itu rob, karena sudah terlalu lama terbiasa hidup di tengah rob. Sudah akrab dengan rob 20 tahun lebih,” ungkap Zamroni.
Menurutnya, warga desa sudah tahu kalau solusi mengatasi rob ini hanya dengan tanggul laut. Warga juga paham, penyedotan air dan pengerukan sungai, tak akan menyelesaikan persoalan rob untuk jangka panjang. Namun, sifatnya hanya sementara.
“Warga juga tahu selama menunggu tanggul laut selesai, pemerintah juga mengusahakan menangani rob dalam jangka pendek. Semoga (tanggul laut) tidak sampai molor dan tertunda,” ungkapnya.
(hbd)