LANGIT7.ID, Jakarta - Dua kelompok usia penduduk mengalami kemunduruan akibat pandemi wabah yang pertama kali muncul di Kota Wuhan, China. Akan ada satu generasi di sebuah negara terganggu, pertama bayi-bayi yang lahir di masa pandemi dan angkatan kerja baru lulus.
Hal tersebut disampaikan Direktur Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (UI) yang juga ahli kependudukan atau demografi Turro Wongkaren. Dalam rangka Hari Populasi Sedunia, Turro mengatakan, anak usia di bawah lima tahun (balita) atau mereka yang lahir di masa pandemi layanan dasar kesehatannya tidak akan terpenuhi.
"Mereka tidak menerima layanan dasar kesehatan normal seperti masa sebelum pandemi, karena orang tuanya takut ke puskesmas atau karena puskesmas terlalu sibuk mengurusi pasien Covid-19," kata Turro dikutip dari Anadolu Agency, Selasa (13/7/2021).
United Nations Children’s Fund (UNICEF) pada Mei 2020 mengatakan sekitar 116 juta bayi lahir dalam masa pandemi. Terhitung sejak Covid-19 berstatus pandemi pada Maret lalu. Sialnya, Indonesia menjadi negara keenam dengan jumlah kelahiran terbesar. Sedangkan posisi tertinggi, yakni India yang mencapai 20,1 juta kelahiran. China di posisi kedua dengan 13,5 juta kelahiran. Disusul Nigeria (6,4 juta kelahiran), Pakistan (5 juta kelahiran), dan Indonesia (4 juta kelahiran).
Menurut data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) ada tambahan 400.000-500.000 kelahiran di Indonesia di masa pandemi. Biasanya, total kelahiran bayi per tahun sekitar empat hingga lima juta kelahiran. Untuk itu, Turro meminta Indonesia perlu meningkatkan layanan puskesmas dengan berbagai cara agar keluarga yang memiliki balita dapat menerima layanan dasar.
Kelompok kedua, yakni angkatan kerja baru yang menghadapi kesulitan ekonomi akibat pandemi. Mereka kehilangan kesempatan kerja karena perusahaan mengalami krisis.
"Setiap tahun ada sekitar 2,7 juta angkatan kerja yang lahir dan di tahun berikutnya mereka kembali bersaing dengan angkatan kerja baru lagi," tuturnya.
Bagi para pekerja baru di masa pandemi, Turro mengatakan, mereka harus cepat beradaptasi dengan kondisi pasar tenaga kerja yang terbuka. "Tidak bisa bersikap
business as usual," katanya.
Turro yang juga ahli kependudukan Asia Tenggara mengatakan, meledaknya kasus Covid-19 di Indonesiaakibat varian Delta belakangan ini akan mengurangi daya saing Indonesia dengan negara-negara tetangga ASEAN. Terlebih, kata dia, menghadapi negara kuat dunia yang agresif memperebutkan kue ekonomi di kawasan ASEAN. Dia khawatir, balita dan angkatan kerja baru Indonesia di masa pandemi dinilai sulit bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya merebut peluang sesudah pandemi.
Sebelumnya, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell Fontelles, dalam sebuah acara di Jakarta, Juni mengatakan, ASEAN merupakan jantung kawasan Indo-Pasifik yang sangat menjanjikan. Menurutnya, Indo-Pasifik sangat penting bagi komunitas internasional. Di masa depan, 60 persen dinamika perekonomian akan berasal dari kawasan Indo-Pasifik. Dalam beberapa tahun mendatang, 2,5 miliar warga kelas menengah global akan berada di Indo-Pasifik.
"Indo-Pasifik penting, bagi kami, ASEAN adalah jantungnya," ujar Borrel dalam seminar virtual yang digelar Centre for Strategic and International Studies (CSIS), 3 Juni 2021.
(asf)