LANGIT7.ID-Jakarta; Turnamen Polytron Superliga Junior 2025 kembali menegaskan dirinya sebagai ajang internasional yang semakin diperhitungkan. Gelaran yang berlangsung di GOR Djarum Kudus, Minggu (21/9), tidak hanya menghadirkan persaingan sengit klub-klub papan atas Indonesia, tetapi juga mendapat sambutan hangat dari peserta mancanegara.
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, mengapresiasi antusiasme tinggi dari tim-tim luar negeri. Menurutnya, turnamen beregu usia muda ini telah berkembang menjadi panggung uji kemampuan yang menarik bagi atlet-atlet bulutangkis dunia.
“Saya melihat ambisi menjadi juara yang diperlihatkan klub-klub dalam negeri dan Asia terus meningkat. Sedangkan atlet-atlet yang datang dari benua Eropa dan Amerika juga sangat antusias, apalagi kualitas pemain Indonesia memiliki teknik di atas rata-rata. Mereka memanfaatkan turnamen ini sebagai ajang untuk mengukur kemampuan melawan tim-tim Asia,” ujar Yoppy dalam keterangan resmi, Senin (22/9/2025).
Baca juga: PB Djarum U-15 dan U-19 Putra Kuasai Superliga Junior, Tradisi Juara Terus BerlanjutYoppy juga mengungkapkan bahwa minat dari negara-negara lain semakin besar setelah suksesnya penyelenggaraan tahun ini. Vietnam dan Selandia Baru yang batal hadir justru menyesal dan berjanji tak akan melewatkan edisi mendatang. Malaysia dan Amerika Serikat berniat menambah kategori usia yang dikirim, sementara China dan Jepang sudah menargetkan untuk menurunkan tim U-17 dan U-19 tahun depan.
Selain menghadirkan persaingan ketat, Superliga Junior tahun ini juga memberikan nuansa berbeda dengan kehadiran piala bergilir yang dinamai legenda bulutangkis Indonesia. Nama besar Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir kini abadi dalam trofi U-13 Putra dan Putri, sebuah simbol motivasi bagi generasi penerus.
Tontowi Ahmad menyebut piala yang menggunakan namanya bukan hanya penghargaan pribadi, tetapi juga cara untuk membangkitkan semangat juang atlet muda. “Semoga piala ini bisa menjadi motivasi buat anak-anak agar bisa berprestasi. Dengan adanya piala ini mereka jadi kenal siapa itu Tontowi Ahmad. Saat saya dan legenda lain menjadi juara, mereka mungkin banyak yang belum lahir. Jadi sekarang mereka bisa tahu dan termotivasi untuk menjadi juara,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Liliyana Natsir yang awalnya terkejut namanya dijadikan simbol piala bergilir U-13 Putri. Namun ia berharap keberadaan piala ini dapat membuka wawasan atlet-atlet muda tentang prestasi para pendahulu. “Awalnya saya kaget, tiba-tiba diberitahu ada Piala Liliyana Natsir untuk U-13 Putri. Tapi saya senang, karena dengan adanya piala ini anak-anak bisa lebih mengenal siapa pendahulu mereka dan prestasi-prestasi yang pernah ditorehkan,” ungkapnya.
Pertarungan final U-13 Putri sendiri menghadirkan drama hingga partai kelima. PB Champion Klaten akhirnya keluar sebagai juara setelah pasangan Ayunda Zalfa Irmanto/Vanezya Artha Nafasta mengalahkan Berliana Rahma/Vania Dwi Yanti dari PB Taqi Arena dengan skor 21-15, 21-12. Kemenangan ini terasa semakin istimewa karena Ayunda merayakan ulang tahunnya yang ke-12 pada hari pertandingan.
“Saya sangat bahagia karena tim membuat sejarah dengan menjadi juara dan memenangi Piala Liliyana pertama. Kebahagiaan saya semakin bertambah karena ini juga menjadi kado terbaik karena bertepatan dengan ulang tahun saya,” ucap Ayunda penuh rasa syukur.
Dengan meningkatnya antusiasme mancanegara dan hadirnya piala bergilir legenda, Polytron Superliga Junior 2025 tak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga sumber inspirasi. Turnamen ini membuka ruang bagi lahirnya generasi emas bulutangkis dunia, dengan Indonesia sebagai pusat perhatian.
(lam)