LANGIT7.ID, Jakarta,- -
Maia Estianty bersama sang suami,
Irwan Mussry diketahui tengah menunaikan ibadah umrah. Tak hanya berdua, Maia juga memboyong dua putra dan menantunya,
El Rumi,
Al Ghazali, dan Alyssa Daguise.
Perjalanan
ibadah ke Tanah Suci kali ini cukup berbeda. Banyak momen hangat dan berharga yang diabadikan lewat rekaman kamera.
Baca juga: Bakal Jadi Nenek, Maia Estianty Punya Nama Panggilan BaruSalah satunya saat El Rumi dan Al Ghazali mencium kaki Maia Estianty di depan
Kakbah.
Dalam video yang diunggah akun fanbase Al Dan Alyssa, @alalyssalovers, tampak Maia Estianty, Irwan Mussry, El Rumi, Al Ghazali, dan Alyssa Daguise tengah berada di depan Kakbah. Irwan Mussry, El Rumi, dan Al mengenakan
baju ihram.
Al Ghazali terlihat mencium tangan dan kaki Maia, disusul El yang mengikuti langkah sang kakak. Maia yang terlihat haru, langsung mengusap punggung kedua anaknya satu persatu.
Usai mencium kaki sang ibu, El kemudian mencium kedua pipi Maia yang diakhiri dengan pelukan hangat.
Islam memposisikan seorang ibu sebagai sosok yang mendapat kehormatan lebih dibandingkan ayah.
Baca juga: Perhiasan Maia Estianty di Siraman Al Ghazali Seharga Rumah Mewah di BSD CityDalam hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah Saw memerintahkan agar berbakti kepada ibu sebanyak 3 kali lebih utama daripada ayah.
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك
Artinya, "
Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?'. Nabi SAW menjawab, 'Ibumu'. Dan orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi?', Nabi SAW mnejawab 'Ibumu'. Orang tersebut bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?', beliau menjawab 'ibumu'. Orang tersebut kemudian bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi?,' Nabi menjawab 'Kemudian ayahmu'," (HR. Bukhari dan Muslim).
Al-Qur'an menjelaskan bahwa ibu mengalami kepayahan luar biasa yang dialami dalam masa mengandung, melahirkan, sampai menyapih anaknya.
Allah berfirman dalam Surat Al-Ahqaf ayat 15:
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Artinya, “
Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung sampai menyapihnya itu selama tiga puluh bulan. Sehingga, apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridhai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim.”(est)