LANGIT7.ID-Jakarta; Sebanyak 6.919 masjid di seluruh Indonesia resmi diinstruksikan menjadi titik singgah (rest area) bagi masyarakat yang melakukan perjalanan selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Langkah ini diambil Kementerian Agama untuk memitigasi risiko kecelakaan di jalan raya melalui Program Masjid Ramah Pemudik.
Inisiatif yang dipusatkan di Masjid Jami' An Nur, Karawang, Jawa Barat ini, mengubah fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat layanan sosial bagi musafir tanpa memandang latar belakang agama. Kemenag menargetkan ketersediaan tempat istirahat yang memadai dapat menjaga kebugaran fisik pengemudi selama arus mudik dan balik.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa keterlibatan ribuan masjid ini adalah bentuk nyata dari moderasi beragama yang menyentuh aspek kemanusiaan. Menurutnya, masjid harus menjadi ruang yang inklusif dan solutif bagi publik yang sedang dalam perjalanan.
“Inilah bukti bahwa Indonesia memiliki toleransi sejati, bukan hanya dalam teori, tetapi dalam praktik. Masjid adalah rumah bagi siapapun,” ujar Menag Nasaruddin Umar.
Beliau juga secara spesifik meminta para pengurus masjid (takmir) untuk proaktif melayani para pengguna jalan yang singgah demi memastikan mereka bisa melanjutkan perjalanan dengan aman.
“Jika memungkinkan, sediakan kopi atau minuman hangat bagi para pengemudi agar tidak mengantuk. Kehadiran masjid sebagai tempat istirahat terbukti mampu menurunkan angka kecelakaan hingga 50 persen pada musim mudik sebelumnya,” kata Menag.
Dimensi Sosial di Balik Hari Besar
Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, menambahkan bahwa periode akhir tahun ini memiliki keunikan karena mempertemukan ritual keagamaan umat Nasrani dengan tradisi liburan nasional. Oleh karena itu, masjid hadir untuk mengambil peran sosial dalam fenomena mobilisasi massa tersebut.
“Sebagaimana Idul Fitri, ada aspek yang bersifat syariat dan ada pula yang bersifat sosial kemasyarakatan. Mudik dan liburan merupakan fenomena sosial yang dinikmati bersama oleh seluruh masyarakat,” jelas Abu Rokhmad.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memaknai pelayanan kepada musafir sebagai bagian dari ibadah itu sendiri.
“Kita semua pada hakikatnya adalah musafir. Ketika masjid dibuka dan dimanfaatkan layanannya, itu merupakan praktik keagamaan yang bernilai luhur,” tambahnya.
Ekspansi Program Masjid Ramah
Meskipun sebelumnya skema serupa hanya identik dengan momen Lebaran, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menyatakan bahwa ini adalah kali pertama program ini diterapkan secara terstruktur pada skala nasional untuk momen Nataru.
Program ini merupakan turunan dari visi besar Kemenag dalam menciptakan ekosistem masjid yang ramah untuk berbagai kelompok, mulai dari lansia, anak-anak, hingga isu lingkungan dan solusi problem sosial di masyarakat.
