LANGIT7.ID-Masa depan sering kali menjadi sumber kecemasan. Kita memikirkan hari esok yang belum tentu datang, menebak-nebak keadaan yang belum terjadi, lalu hati pun lelah sebelum melangkah. Padahal, yang benar-benar kita miliki hanyalah hari ini.
Allah ﷻ berfirman: “Dan janganlah kamu bersedih hati terhadap apa yang luput darimu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23). Ayat ini mengajarkan keseimbangan hati—tidak tenggelam oleh masa lalu, dan tidak gelisah oleh masa depan.
Kecemasan muncul ketika kita ingin mengendalikan hal-hal yang berada di luar kuasa kita. Kita lupa bahwa masa depan bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipersiapkan dengan iman dan usaha yang jujur. Hati menjadi lebih tenang saat kita sadar: tugas kita berikhtiar hari ini, bukan memastikan hasil esok hari.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi). Terlalu larut dalam kekhawatiran yang belum tentu terjadi sering kali tidak membawa manfaat, justru menguras kekuatan jiwa.
Malam ini, latih hati untuk kembali tenang. Serahkan masa depan kepada Allah, fokuslah pada kewajiban hari ini, dan iringi langkah dengan doa. Ketika hati berhenti melawan takdir dan mulai percaya pada pengaturan Allah, kecemasan akan perlahan berubah menjadi tawakal.
(*/saf/Komunitas QM).
(lam)