LANGIT7.ID-Jepang; Seorang pengusaha sushi Jepang yang menyebut dirinya "Raja Tuna" membayar rekor 510,3 juta yen (sekitar Rp 52,8 miliar) untuk seekor tuna sirip biru raksasa dalam sebuah lelang pada hari Senin.
Dave Gershman dari tim perikanan internasional The Pew Charitable Trusts menggunakan berita lelang ini untuk menyoroti bahwa stok tuna sirip biru Pasifik sedang membaik setelah sebelumnya "hampir kolaps."
Rantai restoran sushi milik "Raja Tuna" Kiyoshi Kimura membayar harga tertinggi dalam lelang tahun baru bergengsi tahunan di pasar ikan utama Tokyo untuk tuna seberat 243 kilogram yang ditangkap di lepas pantai utara Jepang.
"Saya kira kami bisa membelinya dengan harga sedikit lebih murah, tetapi harganya melambung sebelum kita sadar," kata Kimura setelah lelang dini hari di pasar ikan utama Tokyo.
"Saya terkejut dengan harganya... Saya berharap dengan memakan tuna pembawa keberuntungan ini, sebanyak mungkin orang akan merasa berenergi," ujarnya kepada wartawan.
Harga yang dia bayarkan di lelang tersebut merupakan yang tertinggi sejak data pembanding mulai dikumpulkan pada tahun 1999.
Rekor tertinggi sebelumnya adalah 333,6 juta yen untuk seekor tuna sirip biru seberat 278 kilogram pada tahun 2019, setelah pasar ikan pindah dari kawasan tradisional Tsukiji di pusat Tokyo ke fasilitas yang lebih modern.
Pemenang lelang tertinggi tahun lalu membayar 207 juta yen untuk seekor tuna sirip biru seberat 276 kilogram.
Tak lama setelah lelang tahun ini, tuna tersebut dipotong-potong dan dijadikan sushi, dijual dengan harga sekitar 500 yen (sekitar Rp 52.000) per gulungan.
"Saya merasa seperti memulai tahun dengan cara yang baik setelah menyantap sesuatu yang begitu membawa keberuntungan di awal tahun," kata Minami Sugiyama (19) kepada AFP dari sebuah meja di salah satu restoran Kimura di Tsukiji. Pelanggan lain, Kiyoshi Nishimura, setuju.
"Bahkan tanpa dicelupkan ke kecap, ada rasa manisnya. Dan kekayaan rasanya, teksturnya... itu membuatmu merasa bahagia," kata pendeta Shinto berusia 40 tahun itu.
Selama pandemi Covid-19, tuna tahun baru hanya mencapai sebagian kecil dari harga puncak biasanya karena restoran mengurangi operasional.
Gershman mengatakan dalam pernyataan melalui email bahwa rencana pemulihan 2017 "berhasil, dan jika para pembuat keputusan mengambil tindakan lebih lanjut pada tahun 2026, masa depan tuna sirip biru Pasifik akan cerah."
"Tahun ini, para pengelola perikanan dari Jepang, Amerika Serikat, Korea, dan negara-negara lain di seberang Pasifik yang menargetkan tuna sirip biru harus menyepakati rencana pengelolaan berkelanjutan jangka panjang yang akan mengunci populasi yang sehat dan memastikan spesies ini tidak lagi menghadapi penangkapan berlebih seperti di masa lalu," tambahnya.(*/saf/v-express.net)
(lam)