Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 02 Februari 2026
home wisata halal detail berita

Memaknai Smara Bhumi: Perayaan Cinta dan Semangat Membumi dalam Pameran Cat Air ABAS 20

tim langit 7 Ahad, 01 Februari 2026 - 19:35 WIB
Memaknai Smara Bhumi: Perayaan Cinta dan Semangat Membumi dalam Pameran Cat Air ABAS 20
LANGIT7.ID-Jakarta; Pameran yang rencananya dibuka oleh pencinta seni Sihaan Farnandes, Minggu 1 Februari 2026, akan mengeksplorasi keistimewaan beragam karakter dalam tiap diri pelukis yang berpartisipasi merespon makna Smara-Bhumi yang dijumput dari filosofis Jawa kuno.

Pengamat seni Bambang Asrini di katalog pameran menyatakan frasa lengkap Smara Bhumi ada penambahan, yakni Adimanggala.

Yakni selain memberi makna keindahan dari pertemuan antara kata Smara, yang berarti Cinta dan kata Bhumi yang artinya selalu merendah, sedekat Tanah atau Bumi yang seolah manunggal dalam kesatuan, selain juga makna Adimanggala yang tak kalah penting.

“Frasa ini acapkali dirujuk untuk semangat membangun sosok pemimpin bagi diri sendiri, yang memberikan kasih nan Agung—Adimanggala-- serta mengayomi sang liyan yang berarti perayaan seni sebagai ketulusan para seniman untuk mendekat pada alam, sesuatu yang secara kodrati ada dalam diri tiap manusia dan lingkungannya’’ ugkap Bambang di katalog pameran tersebut.

Ketua Komunitas ABAS, Agus Budiyanto menyebut bahwa Smara Bhumi adalah untaian puitika frasa tentang bertemunya keberbedaan, kekuatan ekspresi yang sangat personal untuk kemudian menyatu dalam kebersamaan komunitas yang membumi.

“Sebagai pelukis dan ketua komunitas ABAS, saya selalu memberikan pernyataan bahwa seni adalah menyoal rasa dan kebersamaan. Melukis sejatinya bukan merekam apa yang kita lihat tapi menuangkan yang dirasakan. Smara Bhumi diartikan bebas sebagai menangkap bunyi tidak dengan telinga tapi lebih kepada rasa” ujar Agus menambahkan.

Memaknai Smara Bhumi: Perayaan Cinta dan Semangat Membumi dalam Pameran Cat Air ABAS 20

Sementara lukisan Agus Budiyanto menuangkan kosep Smara Bhumi dalam karya ‘Infinity’, 110 x 200 cm dengan tiga panel kanvas menyatu dan saling berdialog warna, garis, cipratan air pun sabetan-sabetan kuas yang mempesona membentuk gugusan-gusan bentuk dan laburan warna eksotis.

Pelukis lain yang berpartisipasi dan cukup menonjol adalah Dumasi Marisina Magdalena Samosir yang menuturkan Smara Bhumi lewat visualisasi semesta samudera luas. Yang menjadi semboyan Dumasi; “saya memahami seni dengan topik yang semata seperti memanjatkan doa. Ungkapan rasa syukur; lautan adalah ruang menemukan damai batin’’ ujarnya.

Pelukis ini membawa dan mengajak penikmat seni untuk berhenti sejenak, merasakan keheningan misteri dan keelokan dalam memaknai konsep tentang lautan dalam jiwa pelukis.

Dari tiga karyanya di pameran ini, Dumasi mempersemahkan karyanya yang apik di ‘Riding the Unseen Currents’, ukuran 56 x 142 cm, yang mana ia mendemonstrasikan kemampuan menyesuaikan judul dengan gambaran di lukisan saling menyapa dengan berbagai kemungkinan tafsir surreal dan indah.

Sementara pelukis Erika Enda Ginting membuat lukisan unik berjuluk ‘Owlish Presence’, berukuran mungil 38 x56 cm, yang katanya ia mengaku’, “saya menekankan keseimbangan antara kendali dan ketidakterdugaan selain membiarkan medium berbicara melalui aliran, waktu, dan kebetulan-kebetulan dengan teknik cat air kering dan basah” katanya.

Memaknai Smara Bhumi: Perayaan Cinta dan Semangat Membumi dalam Pameran Cat Air ABAS 20

Pelukis Regina Busono dan karya-karyanya, yakni dua karya di pameran ini, memiliki kecenderungan posterik selain juga semesta surreal. Lukisannya yang cukup menohok dan membeda; dalam judul ‘Tears of Justice’, ukuran mungil, 56x 38cm tersemat sebuah protes reflektif.

Dewi keadilan retak dan lunglai yang ini adalah talenta bagi Regina sebagai seorang pelukis, membeda dengan seniman lain yang berpartisipasi. Teknik Cat Air kering ini sebuah berkah pula selain kibasan dan sabetan trasnparasi karakter air juga seruan reflektif seolah poster tersebut ‘teriakan diam’ yang cukup elok.

Partisipan lain, Umi Haksami, pelukis senior sekaligus Ketua Indonesian Water Color Society (IWS) pada 2014 dengan lukisan ‘Light of The Day’, ukuran 110 x 80 cm adalah karya satu-satunya, yang memanjakan sensifitas skill, pengalaman-pengalaman inderawi menyoal cat air dan hidup, serta kompleksitas visualisasi sebab jam terbang yang tinggi sebagai seniman.

Umi mendemostrasikan, tak banyak cakap, secara visual ia berceloteh, seakan bercengkerama bagaimana sebuah hari memendarkan cahaya warna, bidang-bidang yang bertemu, sebuah hari yang penuh semangat seolah menyongsong Tahun 2026.

Pelukis Indrawati Halim adalah prototipe pelukis yang menyukai simbolisme via karakter air dan uniknya cat air dalam pameran ini, mempersembahkan ‘You are my Sunshine’, ukuran mungil 56 x 76 cm. Indrawati puitik menorehkan kuas, menanggalkan warna kuning yang berpendar dan menghilang yang menyisakan out-lines kelopak bunga seperti ilustratif; namun di tengah mahkota bunga ia menegaskan tentang yang biru solid bernoktah seolah titik air; dan kemudian membaur dengan warna biru muda yang perlahan memudar.

Pameran kali ini juga memunculkan kehadiran bankir yang melukis, dan dalam beberapa tahun ini bertransformasi menjadi pelukis yang cukup handal, yakni Vera Eve Lim, yang dalam karya sesuai dengan yang dilakoni yakni ‘Unstoppable’, ukuran 112 x 76 cm ia memilih menyesuaikan dengan karakter mentornya, Agus Budiyanto di ABAS.

Vera memilih sentuhan dua karya yang cukup peka dan elok di pamerkan dengan mengaku, ”saya melakoni ‘menyelam dalam-dalam, meraup cukup feeling menuaikan apa dan bagaimana karakter cat’ serta tak lupa: mengaduk emosi tentang jedah ruang, minimalisir sabetan, ritme goresan tertentu pada kertas yang membentuk apa yang dsebut harmoni” ujarnya.

Selengkapnya partisipan pameran adalah Agus Budiyanto, Chesna Anwar, Dumasi Marisina Magdalena Samosir, Niken Vijayanti, Diit Maya Paksi, Dyah Prasetyorini, Ernani Hastuti, Baskoro Sardadi, Syiska Diranti Ventia, Tianty Trisna Dewi, Umi Haksami, Ratu Iqlima, Erika Enda Ginting, Dian Fitrasari, Susy Liestiowaty, Hedy Lapian, Yulian Sodri, Aviliani, Michelina Tri Wardhany, Venny Jokowidjaja, Devayanti A Wulaningtyas, Basrie Kamba, Regina Busono, Helena Virginia gunario, Sri Wahyuni, Vasundara Sur, Vera Eve Liem, Cindy A Budiono, Indrawati Halim, Shanti Surya dan Lita Husain.

Sebuah pameran bersama dengan partisipan yang banyak, memang sejatinya memberi pesan tentang keberbedaan karakter dalam tiap diri pelukis yang berpartisipasi, saat sama membangun pesona saling dukung dalam kebersamaan.

Topik pameran bersama berjuluk Smara-Bhumi yang dijumput dari filosofis Jawa kuno itu semoga membuka gerbang keelokan tahun 2026. Tahun anyar saling berbagi semangat untuk para perupa di komunitas seni Agus Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS) dan seluruh warga seni di Tanah Air, bahwa keindahan mengusung kebhinekaan adalah keniscayaan yang menyatu dalam merayakan seni membumi.

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 02 Februari 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
12:10
Ashar
15:29
Maghrib
18:20
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan