LANGIT7.ID-Nggak masalah kalau ternyata IPK dan IQ istri lebih tinggi daripada suaminya. Tapi sudah seharusnya suami lebih giat dalam mencari ilmu, karena mau nggak mau dia harus mendidik istrinya.
Maaf, jadi suami yah jangan lemot. Nyari ilmu, lemot. Nyari nafkah, lemot. Ada masalah, lemot. Ada peluang, lemot. Kalau lemot kayak gini, gimana bisa mimpin rumahtangga? Bisanya cuma maen ular tangga!
Lantas, yang bener gimana?
- Ada masalah, gercep. Hadapi. Tuntaskan.
- Ada peluang, gercep. Ambil. Manfaatkan.
Pria zaman purba harus berburu, menombak, memanah, melompat, memanjat, menyelam, bahkan bertarung sama hewan demi mendapatkan makanan (baca: nafkah).
Sekarang, semangat bertarung itu harusnya tetap ada. Berkompetisi, tepatnya.
Yang bikin prihatin, saat ini banyak sekali istri yang lebih gigih nyari ilmu dan nyari nafkah ketimbang suaminya. Nggak kebalik tuh? Tulang rusuk kok jadi tulang punggung?
Hei, akhir-akhir ini masalah yang terjadi silih berganti. Begitu juga peluang. Datang silih berganti. Suami sebagai pemimpin harus jeli, cermat, dan gercep. Jangan kebanyakan rebahan.
Maksudnya, jeli memilih peluang usaha yang modalnya minimal, harganya wajar, profitnya fair, belum laku tetap aman, mudah untuk go national, dan banyak bukti suksesnya. Ini semua akan mengurangi resiko finansial bagi keluarganya.
Selain jeli, suami baiknya juga memastikan usahanya tetap berjalan. Jangan ‘panas’ di awal doang. Ingat, ketangguhan adalah satu ciri yang harusnya melekat pada pria. Ayo buktikan!(*/saf/Ippho Santosa/
Komunitas QM)
(lam)